"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Siklon Tropis Ancam Bali-Nusa Tenggara, Perlu Persiapan Dini

Ancaman Siklon Tropis di Indonesia Masih Berlangsung

Ancaman siklon tropis masih terus menghiasi wilayah Indonesia. Selain siklon tropis Bakung yang memengaruhi wilayah Bengkulu dan Lampung, ada bibit siklon 93S yang mulai terbentuk sejak 11 Desember 2025 dan berpotensi memicu cuaca ekstrem di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Pada Minggu (14/12/2025), beberapa titik lokasi di perumahan penduduk dan pusat pariwisata di Bali terendam banjir. Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyebut banjir di Bali kali ini disebabkan oleh bibit siklon 93S. “Bali mengalami hujan lebat. Garis angin kencang digambarkan di atas Laut Bali, dekat utara Bali,” ujar Erma.

Di Nusa Tenggara Timur, pemerintah setempat telah melakukan mitigasi. Mereka juga meminta warga untuk waspada terhadap bibit siklon 93S yang berpotensi tumbuh menjadi siklon tropis. Gubernur NTT, Melki Lakalena, menekankan pentingnya kewaspadaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru agar terlindungi dari ancaman bencana hidrometeorologi.

Pada 2021, sekitar 18 kabupaten dan kota di NTT terkena siklon tropis Seroja yang meluluhlantakkan pemukiman dan memakan korban jiwa. Pada 1973, siklon tropis juga menghantam Flores, NTT.

Dalam jumpa pers mengenai perkembangan siklon tropis ini, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, meminta masyarakat untuk waspada terhadap perkembangan bibit siklon tropis 93S yang saat ini masih terpantau di Samudera Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa siklon tropis 93S diprediksi bergerak menjauhi wilayah Indonesia dan masih berpeluang rendah untuk berubah menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan. Namun, potensi bibit ini diprediksi ada antara 11-20 Desember 2025, bahkan bisa hingga Januari 2026.

Dampak tidak langsung dari 93S juga memicu potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Hujan dengan intensitas sedang-lebat berpotensi terjadi di sebagian wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Angin kencang dan gelombang tinggi berpotensi di pesisir selatan Jawa Timur, Bali hingga Nusa Tenggara.

Banjir di Wilayah Perumahan

Di area perumahan penduduk di Jalan Gunung Tangkuban Perahu dan Jalan Gunung Salak, Padangsambian, Denpasar Barat, air banjir masuk ke rumah dan tempat kos sejak tengah malam, Ahad lalu. Saita Purba (39) masih terlelap saat air memasuki kamar kos-kosannya dini hari. Perempuan yang berprofesi sebagai guru ini terbangun setelah pemilik kos mengetuk pintunya berkali-kali.

“Aku kaget, tahu-tahu air sudah masuk kamar. Semua basah, tempat tidur, lemari, bahkan motor teman kosku terendam air hingga setengah badan motor,” ujarnya. Menurut Saita, air baru surut setelah delapan jam atau sekitar jam 9 pagi.

Indah Pamuji, warga di Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar Barat, juga memantau banjir sudah menyentuh bangunannya dan hampir masuk ke kamar di lantai satu. Beruntung ia tinggal di lantai tiga, sehingga lebih aman. “Tapi pagi-pagi pas turun, sudah surut,” ujarnya.

Di perumahan Marlboro Jalan Gunung Talang, air sempat menyentuh ketinggian sekitar 80 sentimeter. Roy, warga setempat, menyebut air masuk ke garasi rumahnya. Namun, karena rumahnya lebih tinggi dari jalanan, air tidak sempat masuk ke dalam rumah.

“Saya sudah siap-siap, mulai bawa barang-barang kecil dari lantai satu ke lantai dua, jaga-jaga,” katanya. Menurut dia, banjir di pemukimannya dikarenakan tanggul sekitar yang jebol.

WNA Tewas Akibat Banjir

Seorang warga negara asing (WNA) ditemukan meninggal dunia, pada 14 Desember lalu. Jenazahnya tersangkut di gorong-gorong, di Jalan Krisnantara, Desa Tibubeneng, Badung. Lima personel Basarnas tugaskan melakukan evakuasi. Menurut laporan, posisi korban berada di bawah dan tersangkut pipa.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengatakan ketinggian air sekitar 100 sentimeter saat personelnya melakukan evakuasi. Polres Badung menduga WNA yang meninggal tersebut terseret arus setelah menerobos banjir.

Situasi di Nusa Tenggara

Gubernur NTT, Melki Lakalena, berkata menerima peringatan dari BMKG terkait potensi bencana hidrometeorologi di wilayahnya. Dia bilang telah menggelar rapat koordinasi sejak awal Desember lalu. Sejak awal Desember itu, NTT sudah mengalami hujan dengan intensitas sedang dan lebat yang dikhawatirkan memicu banjir, tanah longsor, hingga gelombang tinggi.

Menurut Melki, sejumlah daerah harus mewaspadai potensi itu, yaitu Flores, Lembata, Alor, Timor bagian selatan, Rote Ndao, Sabu Raijua, serta wilayah pesisir Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya. Gelombang tinggi ini juga berpotensi terjadi dan bisa mencapai 2,5 meter sampai 4 meter. Ini bisa berdampak pada pelayaran dan para nelayan yang melaut.

Apa Itu Siklon Tropis?

Mengutip dari situs BMKG, siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat yakni lebih dari 26.5 derajat Celcius. Siklon tropis disertai angin kencang yang berputar di dekat pusatnya dan mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

Masa hidup suatu siklon tropis rata-rata berkisar antara 3 hingga 18 hari. Energi siklon tropis diperoleh dari lautan hangat, maka siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan.

Dampak Siklon Tropis

Siklon tropis berdampak sangat besar terhadap tempat-tempat yang dilaluinya. Angin kencang serta hujan deras bisa terjadi berjam-jam hingga berhari-hari, bahkan dapat memicu banjir, gelombang tinggi, dan gelombang badai. Apabila siklon tropis di laut, potensi dampaknya berupa gelombang tinggi karena biasanya muncul lewat pusaran air terlebih dahulu.

Menurut BMKG, hujan deras dan angin kencang yang mengganggu pelayaran internasional dan bisa menenggelamkan kapal. Di darat, angin kencang dapat merusak atau menghancurkan kendaraan, bangunan, jembatan dan benda-benda lain. Angin kencang ini bisa membuat puing-puingnya beterbangan. Banjir pun bisa terpicu menjadi banjir bandang.

Gelombang badai atau peningkatan tinggi permukaan laut akibat siklon tropis juga merupakan dampak yang paling buruk yang mencapai daratan. Dari catatan siklon tropis yang pernah terjadi secara global, 90 persen siklon tropis mematikan.

Mitigasi Bencana

Menurut Erma, situasi yang terjadi di Sumatra sebenarnya bisa diantisipasi sehingga tidak banyak menelan korban jiwa maupun kerusakan parah pada infrastruktur. Sebab, peralatan untuk mengetahui kehadiran bibit siklon ini terprediksi. Indonesia memiliki dua piranti yaitu Sadewa dan Kamajaya yang bisa dikembangkan menjadi sistem peringatan dini untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

Kejadian di Sumatra sebenarnya sudah terlihat sejak satu sampai dua bulan melalui pemantauan peralatan ini. Bahkan ada yang bisa diprediksi sejam enam bulan sebelum. “Permasalahan Indonesia itu kan di mitigasi. Apa yang terjadi sekarang adalah proses mitigasi yang tidak berjalan dengan baik,” kata Erma.

“Kita bisa menekan korban dan kerusakan jika sejak awal peringatan dini jalan, ada evakuasi, mitigasi berjalan. Karena kalau dilihat energi badainya kan kecil. Ada siklon Flores 1973 yang bisa jadi pelajaran. Kronologi dan catatn sejarah ada,” ucapnya.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *