Warga Tapteng Mulai Beradaptasi dengan Kondisi Pasca Bencana
Setelah bencana banjir dan longsor yang menimpa Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), warga mulai menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Masalah krisis air bersih, listrik, gas, hingga kenaikan harga bahan pokok menjadi isu utama yang dihadapi masyarakat.
Pasar-pasar tradisional di Kota Pandan dan Sibolga sudah mulai aktif beroperasi, meskipun masih ada beberapa kendala. Salah satu contohnya adalah Pasar Kalangan Pandan yang terletak di Jalan Lintas Padangsidimpuan-Sibolga. Meskipun sebagian besar pemilik kios telah membuka usaha mereka, pasar ini tampak sepi dibandingkan sebelum bencana. Hal ini disebabkan oleh lokasi pasar yang dekat dengan dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pandan dan Tukka, yang biasanya ramai dikunjungi warga.
Selain itu, variasi barang yang dijual juga berbeda dari biasanya. Misalnya, tidak ada lagi penjualan ikan laut atau ikan sungai, hanya ikan teri dan ikan asin yang tersedia. Bahkan, tidak ada pedagang yang menjual daging sapi, yang biasanya menjadi salah satu ciri khas pasar tersebut.
Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Menurut Idar, seorang pedagang bumbu giling dan bahan makanan di Pasar Kalangan, masyarakat lebih memilih membeli bumbu giling daripada cabai. Hal ini disebabkan oleh kondisi listrik yang belum sepenuhnya pulih pasca bencana. Idar menjelaskan bahwa saat listrik mati, masyarakat tetap bisa memasak sambal tanpa perlu menggunakan blender.
“Kondisi listrik di Tapteng pasca bencana belum 100 persen hidup secara merata. Masih banyak kecamatan yang listriknya belum hidup hingga saat ini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa harga sembako memang naik, tetapi tidak sebesar saat hari pertama bencana terjadi. Pembeli tetap datang, namun jumlah belanjaan lebih sedikit karena ekonomi masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Harga Bawang Merah dan Cabai yang Fluktuatif
Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang sangat langka dan mahal di Tapteng. Saat ini, harga bawang merah mencapai Rp 60 ribu per kilogram, meski sebelumnya harganya relatif stabil. Menurut Idar, kenaikan harga bawang merah disebabkan oleh akses jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus serta faktor cuaca.
Sementara itu, harga cabai juga masih tinggi, meski telah turun dari puncaknya. Sebelumnya, harga cabai sempat mencapai Rp 300 ribu per kilogram, kemudian turun drastis menjadi Rp 180 ribu, lalu Rp 100 ribu, dan saat ini sekitar Rp 65 ribu per kilogram.
Untuk tomat, harga tetap stabil, sedangkan bawang putih naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 30 ribu. Namun, yang paling langka saat ini adalah sayuran. Biasanya, sayuran diambil dari Kecamatan Lopian dan Tukka, tetapi sekarang hanya tersedia sayur singkong dan kangkung dari Sorkam dengan harga Rp 5.000 per ikat, jauh lebih mahal dari biasanya.
Kondisi Pasar Ayam
Pedagang daging ayam juga mengeluhkan kenaikan harga, meskipun tidak signifikan. Saat ini, harga ayam mencapai Rp 40 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 30-35 ribu. Meski pembeli tetap ramai, jumlah belanjaan lebih sedikit dibanding sebelum bencana.
Penanganan oleh Pemerintah
Rauda Hutagalung, seorang warga Pandan, mengatakan bahwa ia tidak dapat membeli dalam jumlah besar karena suaminya belum bisa bekerja seperti biasanya. “Kami beli secukupnya saja. Karena harus pandai ngatur keuangan,” katanya.
Sementara itu, Bupati Tapteng, Masinton, mengatakan akan melakukan sidak ke sejumlah pasar untuk memastikan harga bahan pokok sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Ia juga berkomitmen untuk mempercepat perbaikan infrastruktur jalan agar bahan-bahan sembako dapat masuk ke Tapteng lebih cepat.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











