"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Sepiring Nasi Jagung di Seberang Gereja

Kenangan Nasi Jagung di Bangkalan

Nasi jagung di seberang Gereja mengingatkan saya pada masa lalu yang penuh kenangan. Saat itu, saya dan keluarga besar tinggal di rumah kakek nenek di Bangkalan, Madura. Kakek dan nenek adalah orang tua dari ibu dan ayah, sehingga rumah mereka sangat dekat dengan rumah ibu maupun ayah.

Pada masa itu, ayah sedang melanjutkan studi tinggi di Gainsville, Florida, Amerika Serikat, tepatnya pada tahun tujuh puluhan. Ia menitipkan kami kepada orang tua selama dua tahun. Saya bersekolah di SD Demangan di Kota Dzikir dan Sholawat, mulai dari kelas satu hingga kelas dua.

Makanan Khas dari Rumah Kakek Nenek

Di rumah kakek nenek, saya sering menikmati hidangan lezat yang diolah oleh nenek dan kerabat lainnya. Beberapa makanan favorit yang pernah saya nikmati antara lain:

  • Pais jengkang (kepiting tambak ukuran kecil yang hanya bisa dipanen pada bulan Purnama)
  • Birsa (rajungan) rebus yang digado tanpa nasi
  • Topak ladheh, masakan berkuah dan berempah yang disantap bersama ketupat
  • Nasi jagung dengan lauk pindang dan sayur bobor (di Madura diolah dari daun kelor dan santan encer)

Memasak menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan. Nenek dan kerabat yang mahir memasak menggunakan tungku kayu bakar untuk mematangkan masakan. Suasana dapur yang luas dan berventilasi cukup baik menciptakan kehangatan dan kegembiraan.

Kebersamaan dalam Makan Bersama

Makan bersama menjadi rangkaian upacara yang menakjubkan. Keluarga duduk di meja yang sama. Nenek menyendok nasi, sayur, dan lauk ke piring kakek terlebih dahulu. Setelah itu, giliran cucu-cucu kesayangan mendapatkan giliran. Anak-anak mereka atau saudara dari ayah harus mengambil sendiri.

Nenek mengajarkan agar mengambil makanan secukupnya — bukan senafsunya — dan menghabiskannya. Ajaran ini masih melekat sampai hari ini. Saya tidak pernah lupa bahwa nasi jagung merupakan hidangan favorit. Disantap dengan ikan pindang goreng, sambal rawit merah, dan sayur bobor, nasi jagung menjadi hidangan kesukaan.

Sekarang sulit menggambarkan kelezatan rasa nasi jagung dan pendampingnya. Seingat saya, waktu itu nasi jagung murni dari jagung pipil yang ditumbuk.

Kandungan Gizi Nasi Jagung

Terinformasi, nasi jagung merupakan makanan khas Madura. Meskipun mungkin ada di daerah lain, nasi jagung berasal dari biji jagung yang ditumbuk lalu ditanak.

Jagung merupakan sumber karbohidrat kompleks yang kaya nutrisi dan serat. Menurut alodokter.com, seratus gram nasi jagung mengandung:

  • Sekitar 360 kalori
  • Protein 8 gram
  • Serat 5,5 gram
  • Lemak 0,5 gram
  • Fosfor 55 miligram
  • Kalium 45 miligram
  • Zat besi 1 miligram
  • Selenium 10 mikrogram
  • Vitamin B kompleks, zinc, folat, kolin, dan antioksidan

Disebutkan bahwa nasi jagung memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih. Baik dikonsumsi oleh penderita diabetes dan mereka yang menjalani diet.

Posisi Strategis Nasi Jagung

Nasi jagung merupakan alternatif pangan pokok yang memiliki posisi penting dalam ketahanan pangan. Ia menjadi bagian dari penganekaragaman sumber karbohidrat, tidak melulu bergantung dengan beras.

Seharusnya semua pihak mempertahankan dan menggalakkan konsumsi nasi jagung sebagai pangan pokok selain beras. Lebih luas tidak hanya meliputi daerah yang secara tradisional mengonsumsinya, seperti Madura.

Menurut berbagai sumber, jagung dapat tumbuh baik di lahan kering. Tidak membutuhkan banyak air, sehingga bisa menjadi tanaman andalan di daerah kering.

Nasi Jagung di Kota Bogor

Lama saya tidak menjumpai dan menyantapnya. Tidak mudah menggambarkan tekstur dan rasa nasi jagung saat sekarang. Beruntung, seorang teman memberi tahu bahwa ada penjual nasi jagung di Jalan Siliwangi Kota Bogor. Di deretan lapak UMKM seberang Gereja Katolik St Fransiskus Asisi.

Sabtu lalu saya ke sana. Kecele. Warung tutup. Pada spanduk tertulis menyediakan aneka masakan. Nasi Jagung dan Pecel hanya tersedia di hari Minggu.

Minggu pagi besoknya kembali. Warung buka. Tanpa pikir panjang, saya memesan hidangan yang sudah diidamkan sangat lama.

Berbeda dengan yang dulu dimakan, butiran jagung terlihat dicampur nasi. Bisa jadi penambahan demi membuat nasi jagung lebih pulen, terbawa sifat beras. Pendampingnya juga berbeda. Bukan sayur bobor dan ikan pindang goreng.

Di hadapan tersaji seporsi nasi jagung, urap sayur, lodeh labu siam, tempe goreng tepung, rempeyek kacang, sambal.

“Begitu gaya nasi jagung disajikan di Malang,” kata ibu penjual yang berasal dari Dampit, Kabupaten Malang.

Akhir Kata

Pada skala lebih luas, jagung atau nasi jagung merupakan bagian dari skema diversifikasi pangan agar tidak selalu tergantung pada beras. Maka, peranannya penting dan strategis dalam menopang ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.

Di tataran terbatas, bagi saya nasi jagung merupakan alternatif penting sumber karbohidrat utama yang menyehatkan. Mengandung lebih banyak serat dan nilai indeks glikemik lebih rendah. Saya membutuhkannya.

Selain itu, menyantap seporsi nasi jagung di depan gereja Jalan Siliwangi, Kota Bogor membawa saya ke masa lalu dan sepiring cerita. Tidak hanya tekstur dan rasa nasi jagung, tetapi juga tentang kehangatan dan kebersamaan di rumah kakek nenek di Bangkalan. Pada waktu itu.

Si pembawa cerita —nasi jagung, urap sayur, lodeh labu siam, tempe goreng tepung, rempeyek kacang, sambal— ditebus dengan uang Rp13.000 saja.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *