"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

187 Pendaki Terjebak di Ranu Kumbolo Saat Semeru Meletus

Peningkatan Status Gunung Semeru ke Level IV

Pada Rabu sore, 19 November 2025 pukul 17.00 WIB, Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengumumkan kenaikan status Gunung Semeru dari level III (Siaga) ke level IV (Awas). Sebelumnya, pada satu jam sebelumnya, Wafid telah menaikkan status gunung paling aktif di Indonesia itu dari level II (Waspada) ke level III (Siaga).

Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyusul terjadinya erupsi Gunung Semeru berupa awan panas guguran yang terjadi sejak pukul 14.13 WIB hingga empat jam kemudian pada pukul 18.11 WIB. Seperti dilaporkan sebelumnya, awan panas berhenti di kisaran KM 13 kilometer dari puncak.

Luncuran Awan Panas yang Menjangkau Jarak Jauh

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Priatin Hadi Wijaya dalam konferensi pers secara daring yang digelar Badan Geologi, Kamis, menjelaskan bahwa luncuran awan panas mencapai jarak 15,5 kilometer. Hal ini menunjukkan tingkat aktivitas yang sangat tinggi dan memicu peningkatan status gunung.

Pada saat yang sama, ketika peningkatan status dari Waspada ke Siaga dan kemudian dilanjutkan dari Siaga ke Awas, sekitar 187 pendaki, termasuk di dalamnya pemandu, porter, dan petugas, sedang dalam perjalanan ke Ranu Kumbolo yang berjarak 6,5 kilometer dari puncak Semeru. Sekitar pukul 17.00 WIB, 187 orang ini tiba di Ranu Kumbolo.

Keputusan untuk Menutup Pendakian ke Gunung Semeru

“Ketika status Semeru diputuskan naik ke level Awas, hampir semua pendaki sudah berada di Ranu Kumbolo,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dalam sebuah keterangan melalui media sosial yang disampaikan pada Kamis.

Status gunung Semeru, kata Rudijanta, naik dengan cepat, yang diawali erupsi pukul 14.13 WIB. Pada pukul 16.00 WIB aktivitas Semeru naik ke level III dan pukul 17.00 WIB naik ke level IV.

Seiring kenaikan status gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu ke level IV, TNBTS memutuskan pendakian ke Gunung Semeru ditutup terhitung sejak status naik ke level IV pada Rabu. Sementara kepada pendaki yang sudah berada di Ranu Kumbolo, diminta untuk tetap bermalam di sana.

“Kami minta pendaki tetap bermalam di Ranu Kumbolo karena sudah sore menjelang gelap dan juga cuaca hujan yang memang kurang kondusif kalau dilanjutkan perjalanan kembali ke Ranupani,” ujar Rudijanta.

Ia menambahkan, para pendaki diputuskan melakukan perjalanan ke Ranupani mulai Kamis pagi pukul 07.00 WIB hingga kloter terakhir berangkat pukul 09.30 WIB. “Keseluruhan pendaki, pemandu, petugas dan juga para porter yang total secara keseluruhan berjumlah 187 orang kesemuanya sampai di Ranupani. Kloter terakhir sampai di Ranupani pada 14.30 WIB, sehingga tidak ada lagi orang yang tertinggal di Ranu Kumbolo,” kata Rudijanta.

Keamanan Area Ranu Kumbolo

Dia mengatakan, dalam sejarahnya dampak erupsi Gunung Semeru belum pernah sampai Ranu Kumbolo. Selain itu, erupsi yang terjadi pada Rabu kemarin mengarah ke selatan-tenggara, sementara Ranu Kumbolo berada di sebelah Utara. “Ranu Kumbolo masih aman,” ujarnya.

Perkembangan Status Gunung Semeru dalam Beberapa Tahun Terakhir

Berdasarkan informasi yang dirangkum, sejak status Semeru Siaga pada 2022, 2023 setelah erupsi 2021, hingga diturunkan ke Waspada pada Juli 2024, pendakian ke Gunung Semeru belum juga dibuka. Balai Besar TNBTS baru membuka pendakian pada Desember 2024.

Sementara itu, ihwal cepatnya status naik dari Waspada ke Siaga hingga Siaga ke Awas dalam waktu satu jam, Muhammad Wafid mengatakan erupsi sebenarnya telah terjadi sejak pukul 14.13 WIB. Erupsi berupa awan panas dengan jarak luncur tidak diketahui dikarenakan visual Gunung Semeru tertutup kabut. “Awan panas yang terjadi merupakan awan panas yang berlangsung secara beruntun, bukan kejadian tunggal,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Wafid mengatakan aktivitas Gunung Semeru memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan kondisi cuaca. Dalam periode ini jumlah gempa yang terekam menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih tinggi, terutama gempa letusan, guguran dan harmonik.

Larangan Aktivitas di Wilayah Rentan Bahaya

Pada level IV, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *