Inovasi Mahasiswa UPI: Motor Hidrogen Ramah Lingkungan
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil menciptakan inovasi yang menarik perhatian publik, yaitu motor hidrogen ramah lingkungan. Sepeda motor dengan tulisan FCEV atau Fuel Cell Electric Vehicle Jawara menjadi pusat perhatian dalam Pameran Inovasi Pendidikan Vokasional di Gedung Balai Pertemuan Umum UPI pada Rabu, 12 November 2025.
Motor FCEV adalah jenis kendaraan motor sport bertenaga listrik yang menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik melalui sel bahan bakar. Karya ini merupakan hasil dari tim mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Pendidikan Teknik Industri (FPTI) UPI.
Desain Futuristik dan Teknologi Canggih
FCEV memiliki desain futuristik, tanpa suara mesin, tanpa asap, dan berbahan bakar hidrogen. Listrik yang dihasilkan dari hidrogen digunakan untuk menggerakkan motor listrik, dengan hasil sampingan hanya uap air. Motor sport satu jok ini mampu melaju dengan kecepatan maksimum 80 km/jam, dan hanya memerlukan dua liter hidrogen untuk menempuh 428 kilometer.
Ketika bahan bakar habis, motor tetap dapat berjalan menggunakan baterai cadangan, serta dilengkapi regenerative braking—sistem yang mengubah energi pengereman menjadi daya listrik tambahan.
Proses Pengembangan dan Komponen Lokal
Salah seorang anggota tim, Muhammad Zidan, menjelaskan bahwa motor ini sepenuhnya digerakkan oleh energi bersih. “Motor ini menggunakan bahan bakar hidrogen yang diubah menjadi listrik melalui alat bernama fuel cell. Dari hidrogen, dihasilkan energi listrik untuk menggerakkan motor,” ujarnya.
Zidan, mahasiswa angkatan 2023 yang bertugas di bidang elektrika dan wiring harness body, menceritakan bahwa proyek ini mulai dikembangkan sejak tahun 2024 oleh sepuluh mahasiswa di bawah bimbingan Sriyono, S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Pendidikan Teknologi Industri FPTI UPI.
Proses perakitan motor FCEV memakan waktu sekitar tiga bulan efektif, dengan tahap desain berlangsung selama lima bulan. Meski sebagian besar komponen dirakit sendiri, 80 persen bahan yang digunakan merupakan produk dalam negeri. Hanya fuel cell—alat pengubah hidrogen menjadi listrik—yang didatangkan dari Meksiko karena belum tersedia di Indonesia.
“Kami berharap suatu saat bisa membuat fuel cell sendiri agar proyek seperti ini benar-benar mandiri,” tutur Zidan optimis.
Pesan Lingkungan dan Teknologi Pintar
Motor ini dirancang bukan hanya untuk berfungsi, tetapi juga untuk membawa pesan besar: sustainability. Tidak ada emisi gas buang, karena satu-satunya hasil pembakaran adalah air murni. “Kami ingin membuktikan bahwa kendaraan ramah lingkungan bukan sekadar konsep, tetapi bisa diwujudkan oleh mahasiswa Indonesia,” kata Zidan.
Dibalik bodinya yang ramping, motor ini sarat dengan teknologi pintar. Terdapat sensor hidrogen untuk mendeteksi kebocoran gas dan mematikan sistem otomatis (cut-off) saat terjadi potensi bahaya. Selain itu, terdapat sistem IoT (Internet of Things) yang memungkinkan pemantauan penggunaan energi, tekanan gas, dan suhu mesin melalui ponsel.
Motor ini juga dilengkapi GPS tracker dan fitur tap card RFID sebagai sistem pengaman layaknya kendaraan Tesla. Bahkan, saat motor hilang, pemilik dapat mematikan mesin dari jarak jauh hanya dengan mengirimkan pesan singkat (SMS).
Dari Kompetisi ke Inovasi Nasional
Cikal bakal motor hidrogen ini bermula dari ajang PLN ICE 2024, lomba rancang bangun motor hidrogen tingkat nasional yang diikuti oleh 30 kampus. Tim UPI berhasil menjadi salah satu dari dua tim terpilih di Indonesia yang mendapat dukungan pendanaan untuk merealisasikan rancangan menjadi unit nyata.
“Waktu itu kami memulai dari konsep café racer yang dipadukan dengan desain motor sport. Sekarang, motor ini menjadi kebanggaan karena satu dari dua unit yang ada di Indonesia, satunya lagi di ITS,” jelas Zidan.
Dukungan dari pihak universitas menjadi faktor penting. UPI memberikan akses laboratorium selama 24 jam penuh bagi tim, serta dispensasi akademik agar mereka dapat fokus menyelesaikan proyek ini tepat waktu.
“UPI memberi ruang bagi kami untuk berinovasi. Itu yang membuat proyek ini bisa terwujud,” tambah Zidan.
Membangun Ekosistem Hidrogen di Indonesia
Meski telah melahirkan inovasi besar, perjuangan tim otomotif UPI belum selesai. Mereka kini tengah menyiapkan prototipe mobil hidrogen, serta mendorong terbentuknya stasiun pengisian bahan bakar hidrogen (hydrogen fuel station) di masa depan.
“Kendaraan hidrogen akan jadi masa depan transportasi dunia. Tapi untuk itu, kita butuh infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian yang aman dan mudah diakses,” jelas Zidan.
Tim yang juga merancang bus listrik kampus UPI (Evo 1 dan Evo 2) ini berharap dapat terus mengembangkan teknologi otomotif berkelanjutan yang ramah lingkungan dan bisa bersaing secara global.
Melalui inovasi ini, UPI menegaskan komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim), dengan mendorong pengembangan kendaraan tanpa emisi yang ramah lingkungan dan siap bersaing di era transportasi hijau masa depan.
Dukungan Universitas
“Universitas Pendidikan Indonesia dalam mendukung inovasi teknologi mahasiswa di bidang teknologi hijau sangat luar biasa besar dan komprehensif dari tingkat program studi, fakultas khususnya FPTI, sampai manajemen tingkat universitas. Hal ini dibuktikan keberhasilan mahasiswa dalam memenangkan lomba inovasi di tingkat nasional (ICE PLN, KMHE) juara 1 kategori sepeda bambu listrik dan kendaraan roda tiga, runner-up sepeda motor FCEV maupun event tingkat internasional (Shell Eco Marathon Asia Pacific and Middle East), juga runner-up kategori prototype hydrogen,” ujar Sriyono, M.Pd., Dosen Pendidikan Teknik Otomotif UPI yang juga sebagai pembimbing tim pengembang motor hydrogen.











