Kesadaran tentang Kualitas Film yang Berubah-ubah
Apakah pernah kamu merasa tertipu oleh seorang sutradara saat menonton filmnya? Hal ini biasanya terjadi karena kamu akhirnya menemukan semacam spektrum dari diri sang sutradara. Pada satu waktu, kamu dibuat terbuai dengan karyanya yang luar biasa. Namun, pada waktu lain, ekspektasimu hancur berkeping-keping karena film garapan sang sutradara dianggap buruk. Bahkan, sulit untuk percaya bahwa dua film itu dibuat oleh orang yang sama.
Penasaran seberapa ekstrem spektrum kualitas film seorang sutradara? Coba tonton enam pasang film terbaik dan terburuk yang akan membuat kamu terkejut.
1. Jacques Audiard: A Prophet (2009) dan Emilia Pérez (2024)
Jacques Audiard adalah seorang sutradara Prancis yang cukup terkenal. Pada debutnya 30 tahun lalu, Audiard langsung mendapatkan nominasi Cesar Award (penghargaan film terbaik Prancis). Nama nya makin melambung sepanjang akhir 90-an hingga 2010-an lewat film-film seperti A Self-Made Hero, Read My Lips, A Prophet, The Beat That My Heart Skipped, dan Rust and Bone. Selain Cesar Award, ia juga sering menghadiri Cannes Film Festival.
Namun, siapa sangka pada 2024, ia merilis Emilia Pérez yang dianggap problematik banyak pihak. Audiard yang biasa membuat film berlatar Prancis dan sekitarnya, tiba-tiba membuat film tentang Meksiko tanpa menggunakan referensi kultural yang akurat. Benar saja, film itu menjadi bulan-bulanan, meskipun tetap meraih banyak penghargaan internasional. Coba bandingkan dengan film paling dekoratifnya sejauh ini, A Prophet, niscaya kamu akan terkejut dengan kekontrasannya.
Terbaik: A Prophet (2009)
Terburuk: Emilia Pérez (2024)
2. M. Night Shyamalan: The Sixth Sense (1999) dan The Last Airbender (2010)

M. Night Shyamalan juga sering membuat kejutan bagi penontonnya. Ia bisa membuat film-film brilian dan mengguncang dunia seperti The Sixth Sense, Unbreakable, dan Split, tetapi pada waktu lain ia bisa membuat penggemar kecewa berat. The Last Airbender yang merupakan adaptasi serial animasi Avatar the Last Airbender adalah buktinya. Film itu menjadi bulan-bulanan orang dan dianggap salah satu film adaptasi terburuk sepanjang masa. Rasanya sulit menerima bahwa film itu dibuat sutradara sekaliber Shyamalan. Namun, sepertinya tak tertebak memang bagian dari brand M. Night Shyamalan sebagai sineas.
Terbaik: The Sixth Sense (1999)
Terburuk: The Last Airbender (2010)
3. Francis Ford Coppola: Apocalypse Now (1979) dan Megalopolis (2024)

Dikenal luas gara-gara The Godfather (1972) dan Apocalypse Now (1979), Coppola gagal mengembalikan kejayaannya lewat film Megalopolis (2024). Tidak hanya gagal memenuhi standar tinggi yang sudah dibuatnya beberapa dekade lalu, Megalopolis disebut sebagai film terburuk yang ironisnya dibuat dengan anggaran bombastis. Sebenarnya, Coppola masih menggunakan gaya khasnya, yakni mengeksplorasi bagaimana keserakahan menjadi motif utama protagonisnya. Namun, Megalopolis kehilangan momentum karena penulisan naskah yang kurang matang dan dialog yang kurang natural. Sulit untuk menyukai film ini apalagi percaya bahwa ia dibuat oleh seseorang di balik film-film bombastis 70—80-an.
Terbaik: Apocalypse Now (1979)
Terburuk: Megalopolis (2024)
4. Spike Lee: Do the Right Thing (1989) dan Oldboy (2013)

Spike Lee juga salah satu sutradara yang konsistensinya patut dipertanyakan. Ia dipuji banyak orang gara-gara beberapa film seperti Do the Right Thing, Malcolm X, dan BlacKkKlansman, tetapi dicela saat merilis Oldboy pada 2013. Bagaimana tidak, mengadaptasi sebuah film legenda bukan hal mudah alias berisiko besar. Sebagai konteks, Oldboy karya Spike Lee adalah remake dari film Korea berjudul sama yang rilis satu dekade sebelumnya. Film itu fenomenal dan tentunya tidak mudah menyamai kesuksesan itu. Namun, Lee justru mengambil risiko dan benar saja, itu jadi film terburuk yang pernah ia buat. Bersanding dengan film horor garapannya Da Sweet Blood of Jesus (2015).
Terbaik: Do the Right Thing (1989)
Terburuk: Oldboy (2013)
5. Ridley Scott: Blade Runner (1982) dan A Good Year (2006)

Sutradara lain yang karyanya kurang konsisten adalah Ridley Scott. Bayangkan, ia adalah sosok di balik film-film sukses secara komersial seperti Blade Runner, Gladiator, Thelma & Louise, Alien, dan The Martian. Namun, pada 2000-an, ia pernah merilis film A Good Year yang dicap gagal total oleh penonton. Itu adalah film romantis satu-satunya dalam daftar filmografi Ridley Scott, sekaligus mengonfirmasi bahwa memang genre itu bukan untuknya. A Good Year dibintangi Russell Crowe yang terlibat dalam Gladiator. Namun, dua film itu sungguh kontras dari kematangan cerita dan kualitas produksi.
Terbaik: Blade Runner (1982)
Terburuk: A Good Year (2006)
6. Josh Boone: The Fault in Our Stars (2014) dan Regretting You (2025)

Josh Boone sedang jadi bulan-bulanan di jagat maya gara-gara Regretting You (2025). Padahal, jika kamu membaca riwayat kariernya, Boone adalah sutradara film The Fault in Our Stars (2014). Dua film ini sama-sama diadaptasi dari novel laris, tetapi nasib berbeda. Film pertama sukses besar dan dipuja para pembaca novelnya. Apalagi, caranya membahas penyakit kronis dianggap akurat alias risetnya niat. Sementara, Regretting You justru membuat orang makin pesimis dengan masa depan sinema romcom modern. Eksekusinya tidak maksimal, banyak plot hole, dan chemistry antara para protagonisnya tidak menyakinkan.
Terbaik: The Fault in Our Stars (2014)
Terburuk: Regretting You (2025)
Kesimpulan
Berharap seseorang konsisten mengesankan memang tidak manusiawi. Ada kalanya memang kita jatuh, termasuk dalam urusan pekerjaan. Ini juga bisa menjadi pengingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, sehingga ada baiknya kita tidak perlu berlebihan mengidolakan seseorang.











