Enrekangpost.com – Dahulu sekitar 230 juta tahun yang lalu, terdapat satu benua super besar yang disebut Pangea yang kini sudah tidak ada lagi. Namun, bukti fosil spesies purba yang ditemukan di Afrika dan Amerika Selatan menunjukkan bahwa kedua benua itu pernah menyatu. Fosil Cynognathus, reptil mirip mamalia yang telah punah, hanya ditemukan di kedua benua tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa benua Pangea perlahan terpecah dan mengalami pergeseran yang menghasilkan benua-benua yang kita kenal saat ini. Meskipun sulit membayangkan dunia yang hanya memiliki satu benua super, namun hal ini terbukti dari bukti fosil yang ditemukan.
Namun, perpecahan benua ini tidak terjadi secara cepat. Karena inti Bumi yang lunak dan lempeng tektonik yang terus bergerak, perpecahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan, Afrika diperkirakan akan terbelah menjadi dua di masa mendatang, namun hal ini masih sangat jauh terjadi.
Afrika juga merupakan rumah bagi salah satu retakan terbesar di dunia, yaitu Sistem Retakan Afrika Timur (EARS). Retakan ini melintasi sejumlah negara seperti Etiopia, Kenya, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Rwanda, Burundi, Zambia, Tanzania, Malawi, dan Mozambik. Retakan ini membutuhkan waktu 25 juta tahun untuk terbentuk dan pada akhirnya akan memisahkan lempeng Somalia yang lebih kecil dari lempeng Nubia yang lebih besar.
Ketika retakan ini akhirnya terbentuk dan terjadi pemisahan benua, samudra keenam baru akan terbentuk. Sebagai akibatnya, negara-negara yang sebelumnya terkurung daratan seperti Rwanda, Uganda, Burundi, Republik Demokratik Kongo, Malawi, dan Zambia akan mendapatkan garis pantai.
Topik tentang pergeseran benua ini semakin menarik perhatian publik ketika pada tahun 2018 sebuah retakan besar di Lembah Rift Kenya menjadi berita utama. Retakan ini memiliki kedalaman 50 kaki dan lebar 65 kaki di beberapa tempat, sehingga menarik banyak perhatian di dunia maya. Namun, masih belum diketahui apakah retakan ini akibat pergerakan tektonik atau hanya erosi tanah akibat hujan lebat.





