Kehidupan di Gerai Sagu Kite
Di sebuah gerai sederhana yang terletak di Jalan Merbau, Selatpanjang, deretan kemasan mi sagu tersusun rapi di etalase. Tampak biasa dari luar, namun produk ini menyimpan cerita panjang tentang sagu, komoditas yang telah menjadi identitas Kepulauan Meranti. Kini, sagu diolah menjadi sajian modern bernama Mi Sagu Boedjang.
Bagi masyarakat Meranti, sagu bukan hanya sekadar bahan pangan. Ia adalah bagian dari kehidupan, tradisi, dan sumber penghidupan. Kabupaten Kepulauan Meranti bahkan dikenal sebagai salah satu penghasil sagu terbesar di Indonesia. Namun, meskipun melimpahnya bahan baku, tidak banyak inovasi yang mampu mengangkat sagu ke bentuk yang lebih modern dan praktis.
Igo, sang founder Mi Sagu Boedjang, melihat potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia menyadari bahwa mi sagu sebenarnya sudah lama dikenal sebagai kuliner tradisional. Hanya saja, belum banyak yang mengemasnya dalam bentuk instan dan mudah dijangkau oleh pasar yang lebih luas.
“Padahal kita punya komoditas besar, penghasil sagu terbesar. Tapi belum banyak yang mengemasnya secara praktis. Dari situ kami mencoba menghadirkan mi sagu dalam bentuk ready to cook,” ujarnya.
Langkah itu dimulai pada Maret 2021, dengan segala keterbatasan, Mi Sagu Boedjang lahir sebagai upaya kecil untuk menjembatani tradisi dan kebutuhan zaman. Tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa misi: memperkenalkan kembali sagu kepada generasi yang mungkin mulai melupakannya.
Perjalanan itu tentu tidak instan. Edukasi menjadi tantangan utama. Tidak semua orang memahami apa itu mi sagu, bagaimana rasanya, atau bagaimana cara mengolahnya. Bahkan di dalam negeri, mi berbahan dasar sagu masih kalah populer dibandingkan mi berbahan gandum.
“PR kami besar. Banyak orang belum tahu mi sagu itu apa. Jadi bagaimana orang bisa mengenal dan akhirnya mencoba,” kata Igo.
Namun perlahan, pintu-pintu mulai terbuka. Melalui pembinaan Rumah Kreatif BUMN (RKB) Kepulauan Meranti, Mi Sagu Boedjang mendapatkan ruang untuk berkembang. Produk ini mulai dikenal, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga menembus ajang yang lebih besar.
Satu di antara momen penting adalah ketika Mi Sagu Boedjang terpilih mengikuti Tong Tong Fair 2022 di Den Haag, Belanda. Sebuah festival budaya dan kuliner yang mempertemukan berbagai produk dari Indonesia dengan pasar internasional.
Bagi Igo, itu bukan sekadar kesempatan pamer produk. Lebih dari itu, sebuah pembuktian bahwa sagu yang selama ini identik dengan daerah, mampu berdiri sejajar di panggung global.
“Kami ingin mi sagu ini bisa dirasakan orang di luar daerah, bahkan luar negeri. Itu target kami ke depan,” tuturnya.
Di balik cita rasanya, Mi Sagu Boedjang juga membawa nilai yang kini semakin dicari. Berbeda dengan mi pada umumnya, mi sagu memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya bebas gluten, non-GMO, organik, dan memiliki indeks glikemik rendah. Tanpa bahan pengawet, produk ini menjadi alternatif yang lebih aman, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang mulai peduli dengan pola makan sehat.
“Sagu itu dikenal sebagai makanan sehat, rendah gula. Jadi cocok untuk teman-teman yang menjaga kesehatan,” jelas Igo.
Dari sisi produksi, geliat usaha ini terus menunjukkan perkembangan. Dalam satu bulan, Mi Sagu Boedjang mampu terjual antara 1.500 hingga 2.000 kemasan, dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 kemasan. Pasarnya pun mulai meluas. Tidak hanya di Meranti, tetapi juga merambah Pekanbaru dan sejumlah daerah lain, meski dengan penyesuaian harga karena faktor distribusi.
Di Selatpanjang, produk ini dijual mulai dari Rp18.000, sementara di luar daerah bisa mencapai Rp25.000 per kemasan.
Namun bagi Igo, angka-angka itu bukan tujuan akhir. Ada mimpi yang lebih besar: menjadikan sagu sebagai kebanggaan yang dikenal luas, bukan hanya sebagai bahan mentah, tetapi sebagai produk bernilai tambah tinggi. Ia ingin membuktikan bahwa dari daerah kepulauan yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, lahir inovasi yang mampu bersaing.
Di Gerai Sagu Kite, setiap kemasan yang tersusun rapi bukan sekadar barang dagangan. Ia adalah simbol dari upaya mengangkat potensi lokal, dari kerja keras, dan dari keyakinan bahwa produk daerah pun bisa melangkah jauh.
Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan, Mi Sagu Boedjang terus berjalan. Pelan, namun pasti. Dari Selatpanjang, dari tanah sagu—sebuah mimpi sedang ditenun, satu kemasan dalam setiap langkahnya.











