"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Jangan Salah Pilih APAR: Jenis, Teknologi, dan Cara Penggunaan yang Tepat

Kebakaran: Mulai dari Percikan Kecil hingga Bencana Besar

Kebakaran sering kali dimulai dari percikan kecil yang tidak terdeteksi. Dalam hitungan detik, api bisa berkembang menjadi bencana besar jika tidak segera ditangani. Di sinilah peran Alat Pemadam Api Ringan (APAR) menjadi sangat penting sebagai alat pertama dalam menjaga keselamatan dari kebakaran.

Sejarah Evolusi APAR: Dari Ember Air ke Teknologi Tabung

Evolusi APAR mencerminkan upaya manusia untuk mengendalikan api secara lebih efisien dan portabel. Era awal pada abad ke-18 melihat munculnya alat pemadam pertama yang dirancang oleh Ambrose Godfrey pada tahun 1723. Alat ini terdiri dari tong berisi cairan pemadam dengan sumbu mesiu yang diledakkan untuk menyebarkan cairan tersebut.

Di abad ke-19, George William Manby menciptakan alat pemadam modern pertama pada tahun 1813. Alat ini berupa bejana tembaga berisi cairan potasium karbonat yang didorong oleh udara bertekanan. Perkembangan teknologi terus berlanjut, dan di abad ke-20, penggunaan bahan kimia kering (dry chemical), busa (foam), dan gas CO2 mulai diperkenalkan untuk menangani berbagai jenis kebakaran yang lebih kompleks, seperti kebakaran akibat arus listrik atau bahan kimia cair.

Jenis-Jenis APAR Masa Kini: Sesuaikan dengan Jenis Kebakaran

Teknologi APAR saat ini dirancang berdasarkan jenis bahan bakar api. Memilih jenis yang salah justru bisa memperburuk situasi. Berikut adalah beberapa jenis utama:

  • Dry Chemical Powder (Serbuk Kimia): Jenis paling serbaguna (multipurpose). Efektif untuk kebakaran kelas A (benda padat), B (cairan mudah terbakar), dan C (listrik).
  • Karbondioksida (CO2): Sangat efektif untuk kebakaran kelas B dan C. Keunggulannya adalah tidak meninggalkan residu, sehingga aman untuk peralatan elektronik sensitif.
  • Busa (Foam): Bekerja dengan cara menyelimuti bahan bakar agar oksigen tidak masuk. Cocok untuk kebakaran benda padat (A) dan cairan (B).
  • Liquid Gas (Clean Agent): Teknologi terbaru yang ramah lingkungan dan tidak meninggalkan kotoran sama sekali, sering digunakan di ruang server atau laboratorium.

Standar Operasional Prosedur: Metode PASS

Memiliki APAR saja tidak cukup; Anda harus tahu cara menggunakannya dengan benar. Standar operasional prosedur yang diakui secara internasional adalah metode PASS:

  • Pull (Tarik): Tarik pin pengunci yang ada pada bagian tuas APAR hingga segelnya putus.
  • Aim (Arahkan): Arahkan corong atau selang ke pangkal api (sumber api), bukan ke arah lidah api yang menjuntai ke atas.
  • Squeeze (Tekan): Tekan tuas atau katup dengan kuat untuk mengeluarkan isi pemadam.
  • Sweep (Sapukan): Gerakkan selang dari sisi ke sisi (kanan ke kiri) secara perlahan hingga api benar-benar padam.

Tips Perawatan APAR yang Wajib Diketahui

Agar APAR tetap berfungsi optimal saat dibutuhkan, perhatikan hal-hal berikut:

  • Cek Tekanan: Pastikan jarum pada manometer berada di zona hijau.
  • Kondisi Fisik: Pastikan tabung tidak berkarat, selang tidak retak, dan segel masih utuh.
  • Masa Kedaluwarsa: Lakukan pengisian ulang (refill) secara berkala sesuai masa berlaku bahan pemadam (biasanya 1–2 tahun untuk serbuk dan 5 tahun untuk gas).
  • Posisi Peletakan: Letakkan APAR di jalur evakuasi yang mudah terlihat dan dijangkau, dengan ketinggian sekitar 1,2 meter dari lantai.

APAR bukan sekadar syarat formalitas bangunan, melainkan investasi keselamatan. Dengan memahami sejarahnya, memilih teknologi yang tepat, serta menguasai teknik PASS, Anda telah berkontribusi besar dalam mencegah potensi tragedi kebakaran di lingkungan Anda.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *