"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Ibu Kota Makin Padat, Banyak Warga Cirebon Pilih Tinggal di Kota Sendiri Usai Mudik

Penurunan Angka Urbanisasi di Desa Jemaras Kidul

Desa Jemaras Kidul, yang terletak di Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, kini mengalami perubahan signifikan dalam angka urbanisasi. Dulu, hampir setengah dari penduduk desa ini berbondong-bondong merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan. Namun, kini hanya sekitar 20–30 persen warganya yang masih bekerja di ibu kota. Perubahan ini menjadi indikasi bahwa Jakarta tidak lagi menjadi satu-satunya harapan bagi para perantau.

Faktor Utama Penurunan Urbanisasi

Beberapa faktor utama menyebabkan penurunan angka urbanisasi di daerah ini. Pertama, kesulitan mencari pekerjaan di wilayah Jabodetabek semakin meningkat. Banyak warga mengeluhkan tingginya persaingan kerja dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun terakhir. Selain itu, biaya hidup di Jakarta yang terus membengkak juga menjadi beban berat bagi para perantau.

Selain itu, pertumbuhan bisnis online membuat persaingan semakin ketat. Para pedagang kecil, seperti Warsono, merasa sulit bersaing dengan platform digital yang menawarkan layanan lebih praktis dan murah. Hal ini memicu banyak warga memilih kembali ke kampung halaman.

Contoh Nyata Perubahan

Warsono (55), salah satu warga Desa Jemaras Kidul, menjadi contoh nyata perubahan ini. Ia dulu berdagang makanan siap saji di Tanah Abang, Jakarta. Namun, karena sulitnya menjual barang dan tingginya biaya hidup, ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan berjualan keliling.

“Jualan di Jakarta, Mas, di pasar,” ujar Warsono saat ditemui di rumahnya. Ia mengaku kondisi saat ini jauh berbeda dibanding dulu. “Sekarang susah jualan, Mas. Nggak kayak dulu lagi.”

Menurutnya, biaya kontrakan dan operasional di Jakarta terlalu besar. Di kampung, ia bisa menjalankan usaha dengan biaya yang lebih rendah. “Di sini nggak usah kontrak lagi,” katanya. Kini, ia hanya berharap usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tantangan di Jakarta

Tidak semua warga memilih kembali ke kampung. Kholid (48), misalnya, masih bertahan di Jakarta meski mengakui kondisi di sana semakin sulit. Ia sudah merantau selama 25 tahun, tetapi belum berhasil meraih kestabilan ekonomi.

“Sudah lama, sudah 25 tahun. 25 tahun tapi belum kaya,” ujarnya. Ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. “Kerja ini ya… serabutan.” Meskipun demikian, ia tetap memilih bertahan karena minimnya peluang kerja di kampung halaman.

Peran Pemerintah Desa

Sekretaris Desa Jemaras Kidul, Karsa, mengakui adanya penurunan signifikan dalam jumlah warga yang merantau. Menurutnya, sebelumnya hampir 50 persen warga desa ini bekerja di Jakarta. Kini, angka tersebut turun menjadi sekitar 25–30 persen.

“Yang jelas sulit lapangan kerja. Dulu enak di sana cari duit. Kalau sekarang, boro-boro,” kata Karsa. Ia juga menyebutkan bahwa bisnis online telah memberi tekanan pada para pedagang kecil.

Fenomena yang Terjadi di Seluruh Kabupaten Cirebon

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Desa Jemaras Kidul, tetapi juga di banyak desa lain di Kabupaten Cirebon. Pola yang sama terlihat, yaitu penurunan angka urbanisasi akibat kesulitan mencari pekerjaan dan tingginya biaya hidup di kota besar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak lagi menjadi satu-satunya harapan bagi para perantau. Bagi sebagian warga, bertahan di kampung justru dianggap lebih realistis demi menjaga dapur tetap ngebul.




Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *