"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Perang Iran vs Amerika Selama 18 Hari Setara Biaya MBG Indonesia Tahunan Rp 470 T

Perang di Selat Hormuz: Dampak dan Proyeksi

Perang terbuka yang terjadi di Selat Hormuz telah memasuki hari ke-21 sejak dimulainya konflik antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel. Konflik ini dipicu oleh tindakan awal yang dilakukan oleh Amerika dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi mengenai akhir dari konflik ini.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui Pentagon, kembali mengajukan anggaran tambahan untuk biaya perang senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) ke parlemen Amerika. Anggaran ini akan diputuskan pekan depan. Nominal anggaran ini jauh lebih besar dibanding estimasi kerugian sebesar USD 28 miliar sejak konflik dimulai. Pengajuan anggaran ini juga bertepatan dengan keputusan Trump dan Penatagon untuk mengirim pasukan elite Marinir ke Timur Tengah.

Trump menunjukkan ambiguitas dalam pendiriannya. Di akun X-nya, Jumat (21/3), ia menyebutkan bahwa Selat Hormuz harus dijaga bersama sebagai jalur vital transportasi minyak dan gas global. Ia juga mengungkapkan keinginan untuk meminta bantuan militer negara-negara “pelintas” jika diperlukan.

Di Teheran, pemimpin tertinggi revolusi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memberikan pidato virtual dalam momen perayaan Nowruz 2026 dan Idul Fitri 1447 H. Ia menegaskan bahwa upaya perlawanan sengit militernya belum surut. Putera Ayatollah Ali Khamenei ini memuji ketabahan semangat perang syahid dan meminta kesabaran kolektif warga Iran.

Pemimpin Iran, Masoud Pezeshkian, juga menyampaikan pesan Nowruz. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan senjata nuklir dan tidak mencari perang dengan tetangganya. Namun, jika ada pihak yang memulai perang, Iran tidak akan gentar.

Analisis CSIS-BBC

Laporan studi dari Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan analisis BBC menyebutkan bahwa proposal anggaran perang Gedung Putih dan Pentagon senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) akan diputuskan oleh Parlemen AS pekan depan. Jika diterima, anggaran ini dapat membiayai perang hingga Agustus 2026, atau beberapa pekan setelah perayaan Independent Day.

Jika anggaran perang tambahan tersebut dikonversi ke sejarah fiskal Indonesia, ini setara dengan postur APBN 2024. Saat itu, target belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.325,1 triliun. Ekses kerugian perang selama 19 hari, sejak Sabtu (28/2/2026) hingga Jumat (20/3/2026), sudah tembus US$28,1 miliar atau setara Rp470 triliun.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan, “Perlu uang untuk menumpas musuh.” Ia menambahkan bahwa nominal proposal tersebut masih bisa berubah. Angka ini melampaui biaya setahun program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Indonesia, Rp339 triliun, dalam postur APBN 2026 ini.

CSIS menyebut tambahan alokasi ongkos tempur ini adalah analisa biaya dan kerugian akibat perang selama 18 hari. Laporan Daniel Bush dan Alex Murray dari BBC menyebutkan bahwa kerusakan akibat serangan balasan Iran hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan biaya yang harus ditanggung AS untuk inisiatif perang terbuka tanpa notifikasi setuju dari Kongres.

Kerugian dan Korban

Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS memperkirakan total korban tewas dari pihak Iran dan Israel serta militer telah mendekati 3.200 orang, termasuk 1.400 warga sipil. AS juga telah kehilangan 13 personel militer sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel.

Analisis BBC menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan terjadi saat serangan balasan awal Iran, atau sepekan pertama pasca-Fury Epic Operation AS dan Israel. Gambaran lengkap mengenai kerusakan terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut masih kabur dan belum sepenuhnya terkonfirmasi terbuka.

Estimasi kerugian sebesar US$800 juta pada infrastruktur militer AS—angka yang lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya—menggambarkan skala besarnya biaya tanggungan Washington seiring berlarutnya konflik. Mark Cancian, penasihat senior CSIS sekaligus salah satu penulis laporan lembaga tersebut, menyatakan bahwa kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah ini selama ini kurang diberitakan.

BBC menulis bahwa gelombang serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kerusakan sekitar US$800 juta (Rp13,5 triliun) selama dua minggu pertama perang. Bobot kerusakan terbesar ditimbulkan dari serangan atas sejumlah fasilitas radar militer AS yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal Thaad di pangkalan udara Yordania.

Sistem radar AN/TPY 2 bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun), menurut telaah CSIS atas dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS. Sistem pertahanan udara itu digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak jauh. Serangan berulang ini menegaskan upaya keras Teheran membidik aset-aset spesifik milik AS.

Moskow dan Beijing bahkan dilaporkan mulai berbagi intelijen dengan Teheran mengenai keberadaan pasukan Amerika di kawasan semenanjung Timur Tengah. Citra satelit menunjukkan tiga pangkalan udara—Pangkalan Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi—mengalami kerusakan baru pada berbagai fase konflik.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *