Kisah Mariyah, Penyapu Makam yang Berjuang Lunasi Utang
Mariyah, seorang penyapu makam di TPU Ngagel Rejo, Surabaya, telah menjalani pekerjaannya selama 24 tahun. Di tengah kesehariannya yang sederhana, ia menghabiskan waktu untuk membersihkan nisan dan memastikan setiap pusara terawat dengan baik. Dengan logat Madura yang kental, ia sering menyampaikan kalimat singkat seperti “Bojo gak ono, anak gak duwe,” yang menggambarkan kesendirian hidupnya.
Ia tinggal di sebuah kamar kos di belakang kompleks pemakaman dengan biaya sewa sebesar Rp 450 ribu per bulan. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerjanya sangat dekat, sehingga tidak ada jarak yang terasa dalam kehidupannya sehari-hari. Mariyah tidak mematok tarif untuk pekerjaannya. Bila ada peziarah yang memintanya membersihkan makam keluarga mereka, ia akan melakukan tugasnya tanpa pamrih.
Pendapatan Mariyah bervariasi. Pada hari biasa, ia bisa pulang hanya dengan uang sebesar Rp 2.000. Namun, saat musim nyekar, seperti menjelang Ramadhan dan Lebaran, pendapatannya meningkat drastis hingga mencapai Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu dalam sehari. Meski begitu, tahun ini suasana berbeda. Peziarah lebih sedikit karena banyak warga Surabaya yang mudik. Hal ini membuat pendapatan Mariyah turun.
Ketika ditanya apakah ia akan mudik ke Sampang untuk Lebaran, Mariyah menggeleng pelan. Ia tidak memiliki uang cukup untuk biaya pulang-pergi, yang mencapai Rp 400 ribu. Keputusan itu terasa berat baginya, karena ia merindukan kampung halamannya.
Mariyah juga memiliki anak angkat, namun hubungan itu tidak bertahan lama. Ketika si anak menikah, ia pergi mengikuti suaminya. Suaminya telah meninggal dunia, meninggalkan utang sebesar Rp 57 juta yang harus ia lunasi sendirian. Utang tersebut berasal dari biaya pengobatan sang suami yang menderita diabetes hingga akhirnya diamputasi kaki kirinya.
Selama 24 tahun bekerja di TPU Ngagel Rejo, Mariyah terus berjuang untuk melunasi utangnya. Setiap hari, ia bertemu dengan makam-makam dan orang-orang yang datang untuk berziarah. Meskipun hidupnya penuh tantangan, ia tetap bertahan dengan semangat dan ketabahan.
Kisah Lain: Santoso, Penjaga Makam di Indramayu
Di wilayah Jawa Barat, terdapat kisah Santoso, seorang penjaga makam di TPU Samsu, Kabupaten Indramayu. Pria berusia 50 tahun ini telah bekerja sebagai penjaga makam selama 16 tahun, meneruskan jejak sang ayah. Ia mengaku bahwa pekerjaannya bukanlah hasil dari paksaan, melainkan garis hidup yang ia jalani dengan ikhlas.
Santoso mengibaratkan pekerjaannya layaknya tradisi dalam keluarga aparatur sipil negara (ASN), di mana anak sering mengikuti jejak orangtua. Bedanya, ia mewarisi tugas menjaga rumah bagi mereka yang sudah berpulang agar tetap terawat dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Meski bekerja di tengah ribuan makam, Santoso tidak pernah merasa takut. Sebaliknya, ia merasa banyak mendapat pelajaran dari pekerjaannya tersebut. Salah satu pengalamannya yang paling membekas adalah ketika ia harus menguburkan jenazah orangtua muda yang meninggalkan anak seusia TK atau SD. Pengalaman itu membuatnya menyadari betapa berharganya arti sebuah keluarga.
Santoso juga sering membantu keluarga yang ditinggalkan, mulai dari pengurusan jenazah hingga penggalian kubur. Ia mengatakan bahwa pekerjaannya memiliki nilai ibadah yang besar. Meskipun pendapatan tidak besar, ia merasa dihargai oleh lingkungan sekitarnya.
Dari pengalaman Santoso, kita dapat belajar bahwa kematian bisa menjadi guru terbaik dalam memperbaiki diri. Di tengah kesunyian makam, ada pembelajaran berharga untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum ajal tiba.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











