"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Wabup SPPG Blora Janjikan Perbaikan Menu Usai Isu Ubi MBG Busuk Viral

Isu Ketela Busuk dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Blora

Kabar mengenai menu makan bergizi gratis (MBG) yang disebut-sebut tidak layak konsumsi mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Isu tersebut menyebar setelah beredar pesan yang menyebut adanya sajian berupa ketela boleng atau ketela yang sudah membusuk, telur, serta keripik tempe dalam program MBG.

Dalam narasi yang viral tersebut, menu yang dianggap tidak layak itu disebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedang Becici, yang berada di Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Namun, tudingan tersebut langsung dibantah oleh pihak pengelola SPPG Gedang Becici. Mereka menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

SPPG Tegaskan Isu Ketela Busuk Tidak Benar

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Gedang Becici, Muhammad Afif, menegaskan bahwa kabar yang menyebut pihaknya menyajikan ketela busuk dalam program MBG tidak benar.

“Tidak benar,” ucap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedang Becici, Desa Kutukan, Muhammad Afif saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (12/3/2026).

Afif juga berharap agar polemik tersebut tidak terus diperbesar di ruang publik karena dikhawatirkan memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

“Tapi saya minta tolong sudah tidak usah mem-blow up lagi berita tersebut. Sebab dari mitra keberatan jika berita ter-blow up lagi dan menimbulkan kegaduhan publik,” terang dia.

Disebut Ketela Busuk, Ternyata Ubi Cilembu

Saat ditemui wartawan di kantornya, Afif menjelaskan bahwa makanan yang disajikan dalam program MBG sebenarnya adalah ubi jenis Cilembu yang telah melalui proses pemanggangan.

Ia menuturkan bahwa ubi tersebut dimasak dengan cara dioven terlebih dahulu sesuai standar pengolahan makanan yang berlaku.

“Memang menu yang kami berikan itu ubi jenis Cilembu pada Selasa (09/3/2026) yang cara memasaknya dioven terlebih dahulu sesuai standar. Ubi mentah dipotong lalu dioven. Jadi, itu getahnya, bukan boleng dan setelah dibuka dalamnya baik-baik saja serta enak dikonsumsi,” ujar dia sambil menunjukkan sampelnya, Rabu (10/3/2026).

Menurut Afif, ubi Cilembu memang memiliki karakteristik tersendiri. Setelah dipotong dan dipanaskan, getah dari ubi tersebut dapat mengeluarkan cairan kental yang kadang disalahartikan sebagai tanda pembusukan oleh sebagian orang.

Karakteristik alami inilah yang diduga memicu kesalahpahaman di kalangan masyarakat penerima manfaat program MBG.

Akan Ada Sosialisasi ke Masyarakat

Menanggapi kesalahpahaman tersebut, pihak SPPG Gedang Becici mengaku telah melakukan koordinasi dengan pengelola program MBG di Kecamatan Randublatung.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai jenis makanan yang disajikan dalam program tersebut.

“Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pengelola MBG di Kecamatan Randublatung dan akan segera mensosialisasikan ciri khas makanan yang disediakan dalam program kepada masyarakat penerima manfaat,” kata dia.

Satgas MBG Blora Lakukan Sidak

Meski pihak SPPG telah memberikan klarifikasi, pemerintah daerah tetap menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak).

Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora, Sri Setyorini, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Blora, turun langsung ke SPPG Gedang Becici di Desa Kutukan pada Rabu (11/3/2026).

Sidak tersebut dilakukan sebagai respons terhadap laporan masyarakat mengenai kualitas sajian makanan dalam program MBG.

“Siang hari ini kami langsung menindaklanjuti laporan masyarakat. Ada aduan dari masyarakat di wilayah SPPG Gedang Becici Desa Kutukan, Randublatung, terkait sajian menu MBG di bulan Ramadhan ini yang dinilai kurang layak,” ujar dia saat meninjau langsung lokasi.

Diminta Segera Perbaiki Kualitas Sajian

Dalam kesempatan tersebut, Sri Setyorini menegaskan kepada pengelola SPPG agar segera melakukan pembenahan terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.

Ia juga menyarankan agar bahan baku makanan lebih banyak diambil dari wilayah sekitar guna mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

“Ke depan kami harapkan bahan pokok diambil atau dibeli dari wilayah sekitar sini, sehingga bisa mengoptimalkan dan memberdayakan UMKM di sekitar SPPG, atau berbelanja di pasar-pasar terdekat,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan terhadap kinerja SPPG Gedang Becici guna memastikan adanya perbaikan pelayanan.

“Ke depan akan kita pantau terus kinerja SPPG ini, apakah ada perubahan dan perbaikan atau tidak. Jika tidak ada perbaikan seperti yang kita harapkan, maka akan kita laporkan ke BGN,” lanjutnya.

Pengelola Diminta Perhatikan Kebersihan

Selain kualitas bahan makanan, Sri Setyorini juga mengingatkan tim dapur agar lebih memperhatikan aspek kebersihan dan kelayakan makanan yang disajikan.

“Saya titip pesan kepada tim dapur, jangan sampai ada ulat, jangan sampai ada makanan yang basi, dan jangan sampai ada sajian yang tidak layak untuk diberikan kepada anak-anak sekolah,” pesannya.

Pengelola SPPG Buat Surat Pernyataan

Dalam kesempatan sidak tersebut, pihak pengelola SPPG Gedang Becici juga membuat surat pernyataan kesanggupan untuk memperbaiki pelayanan serta meningkatkan kualitas sajian MBG.

Penandatanganan surat pernyataan itu disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Blora, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), serta Camat Randublatung.

Adapun pihak yang menandatangani dokumen tersebut adalah Kepala SPPG Gedang Becici M. Afif, akuntan Ahmad Nafiruddin, serta ahli gizi Lambang Aryanto.

Dalam surat tersebut, pengelola menyatakan kesanggupan untuk meningkatkan mutu makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.

Selain itu, mereka juga berkomitmen mematuhi seluruh ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk dalam hal penyediaan bahan baku yang melibatkan pelaku UMKM di sekitar wilayah SPPG serta mengikuti standar harga yang telah ditetapkan.

Fasilitas Dapur Juga Dievaluasi

Setelah melakukan peninjauan terhadap menu makanan, Wakil Bupati Blora juga mengecek kondisi sarana dan prasarana dapur SPPG Gedang Becici.

Dalam evaluasi tersebut, pengelola diminta untuk melengkapi fasilitas pengolahan limbah dengan membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung operasional dapur yang lebih sehat, higienis, serta ramah lingkungan dalam menjalankan program makan bergizi gratis bagi para penerima manfaat.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *