"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Sejarah Pencak Dor Kediri, Seni Tarung Bebas dari Lirboyo

Sejarah dan Makna Tradisi Pencak Dor

Pencak Dor adalah sebuah tradisi yang berasal dari Pesantren Lirboyo Kediri. Tradisi ini diinisiasi oleh KH Agus Maksum Jauhari, atau yang akrab disapa Gus Maksum. Ia merupakan tokoh dari Pesantren Lirboyo sekaligus cucu dari KH Manaf Abdul Karim. Munculnya Pencak Dor tidak lepas dari kegelisahan Gus Maksum terhadap maraknya perkelahian antar remaja di Kediri pada masa itu. Banyak konflik antar pemuda yang bahkan menimbulkan korban.

Untuk meredam konflik tersebut, Gus Maksum kemudian menciptakan sebuah arena tarung satu lawan satu yang dianggap lebih adil. Melalui arena ini, para pemuda bisa menyalurkan kemampuan bela diri mereka tanpa memicu permusuhan berkepanjangan. Dalam perkembangannya, Pencak Dor kemudian menjadi ajang silaturahmi para pendekar sekaligus media dakwah bagi kalangan muda. Tradisi ini juga semakin populer di kalangan pesilat dari berbagai perguruan.

Ciri Khas Pencak Dor

Salah satu ciri khas Pencak Dor adalah adanya iringan musik tradisional selama pertandingan berlangsung. Musik tersebut biasanya berasal dari bedug, jedhor, dan rebana. Perpaduan alat musik tersebut dikenal dengan istilah terbang jedhor. Suara tabuhan jedhor menjadi pengiring utama selama para pesilat bertarung di arena. Karena alat musik jedhor selalu dimainkan dalam setiap pertandingan, tradisi ini kemudian dikenal dengan nama “Pencak Dor”. Nama tersebut diambil dari bunyi tabuhan jedhor yang mengiringi jalannya pertandingan.

Arena Pencak Dor biasanya berupa panggung terbuka yang cukup tinggi agar dapat disaksikan oleh masyarakat. Para penonton biasanya mengelilingi panggung dari empat sisi. Dalam pertandingan ini, para pendekar masuk ke arena dari sisi barat dan timur panggung. Mereka kemudian bertarung tanpa menggunakan sarung tangan maupun pelindung tubuh seperti dalam pertandingan bela diri modern.

Nilai dan Makna Persaudaraan dalam Pencak Dor

Meski dikenal sebagai tarung bebas, Pencak Dor sebenarnya mengandung nilai-nilai luhur yang masih dijaga hingga saat ini. Tradisi ini bukan sekadar pertarungan, tetapi juga sarana mempererat hubungan antar pesilat. Kegiatan ini menjadi sarana bagi para pesilat untuk mengasah kemampuan bela diri sekaligus menjaga prestise pergurungan masing-masing.

Selain itu, sepanjang pertandingan biasanya juga dilantunkan shalawat Badar atau shalawat lainnya. Lantunan shalawat tersebut dipercaya dapat meredam emosi para pesilat agar pertandingan tetap berjalan sportif. Pencak Dor juga menjadi simbol keberanian, kerja keras, dan solidaritas antar pesilat. Nilai-nilai tersebut membuat tradisi ini terus bertahan hingga sekarang.

Prinsip utama yang selalu dijunjung dalam Pencak Dor adalah semboyan “Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan.” Artinya, para pesilat boleh menjadi lawan saat bertanding, namun setelah pertandingan selesai mereka tetap bersaudara.

Aturan Dasar dan Keamanan dalam Pertandingan

Walaupun dikenal sebagai ajang tarung bebas, Pencak Dor tetap memiliki beberapa aturan dasar yang harus dipatuhi oleh para peserta. Peserta dilarang meludahi lawan, menyerang ketika lawan sudah terjatuh, serta menyerang bagian vital seperti kemaluan. Selain itu, para pesilat juga tidak diperbolehkan menggunakan senjata ataupun azimat selama pertandingan berlangsung. Pertarungan hanya mengandalkan kemampuan bela diri masing-masing.

Sebagaimana dikutip dari ponorogo.go.id, pertandingan biasanya dipimpin oleh dua hingga tiga orang wasit yang merupakan pendekar senior. Mereka bertugas mengawasi jalannya pertandingan dan menghentikan pertarungan jika kondisi sudah berbahaya. Meski dahulu pertandingan tidak selalu dilengkapi tenaga medis, biasanya tersedia tukang urut atau sangkal putung untuk membantu menangani cedera ringan para peserta setelah pertandingan selesai.

Tradisi Budaya Kediri yang Masih Bertahan

Hingga kini, Pencak Dor masih menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kediri. Tradisi ini sering digelar dalam berbagai acara, mulai dari perayaan budaya hingga kegiatan masyarakat. Tradisi ini berkembang di wilayah eks Kediri yang meliputi Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Blitar, Nganjuk, hingga Tulungagung.

Setiap kali digelar, acara ini biasanya menarik perhatian ratusan bahkan ribuan penonton yang ingin menyaksikan aksi para pendekar di atas arena. Kegiatan Pencak Dor bahkan masih rutin diadakan dalam berbagai momentum, termasuk peringatan Hari Santri Nasional. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menyaksikan pertandingan pencak silat, tetapi juga ikut merawat warisan budaya yang mengajarkan keberanian, sportivitas, dan persaudaraan antar sesama.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *