"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Fitch Soroti Kinerja Pajak, Airlangga Percaya Coretax Tingkatkan Rasio Pajak



JAKARTA — Pemerintah terus berupaya meningkatkan rasio pajak atau tax ratio setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam upaya pemerintah untuk memperkuat penerimaan negara.

Dalam satu dekade terakhir, rasio pajak Indonesia selalu berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan, angka tersebut cenderung menurun. Contohnya pada tahun lalu, rasio pajak turun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025. Fitch sendiri memproyeksikan bahwa rasio pendapatan negara terhadap PDB hanya akan mencapai rata-rata 13,3% selama periode 2026–2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori ‘BBB’ yang berada di level 25,5%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa salah satu upaya yang sedang didorong bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi sistem inti administrasi perpajakan atau Coretax. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal pelaksanaan Coretax agar rasio pajak dapat meningkat.

“Kita akan terus kawal aja Coretax ini agar rasio tax kita bisa kita tingkatkan,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (5/3/2025).

Dia mengaku bahwa revisi prospek dari Fitch menjadi perhatian khusus pemerintah. Airlangga menyatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch.

MBG Jadi Motor Perekonomian

Lebih lanjut, Airlangga juga menjawab sorotan Fitch terhadap tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program Bantuan Sosial Tunai (BST) yang menelan porsi 1,3% terhadap PDB untuk periode 2025–2029. Program ini dinilai menjadi motor penggerak utama beban pengeluaran negara.

Airlangga membela pelaksanaan BST. Menurutnya, berdasarkan studi dari World Bank dan Rockefeller Foundation, program ini bukanlah beban melainkan investasi sumber daya manusia (SDM) jangka menengah dan panjang.

“Dengan pelaksanaan BST yang masif dan baik, investasi US$1 itu menghasilkan US$7. Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu, bahkan Amerika pun melakukan itu. Ini adalah tantangan long term dan medium term, yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term,” ujarnya.

Terkait evaluasi pelaksanaan program tersebut, Airlangga menyatakan bahwa BST baru saja berjalan sehingga pemerintah akan terus melakukan pemerataan secara bertahap di lapangan.

Sorotan Terhadap Danantara

Selain BST, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anugrah Nusantara (Danantara) juga masuk dalam catatan negatif Fitch. Lembaga pemeringkat yang berbasis di New York dan London itu memperingatkan potensi risiko kewajiban kontinjensi (contingent liability) bagi negara apabila mandat Danantara meluas ke aktivitas kuasi-fiskal melalui skema investasi berbasis utang (leverage).

Menyikapi sorotan tersebut, Airlangga menilai keraguan investor wajar terjadi mengingat Danantara adalah lembaga yang masih seumur jagung.

“Danantara kan organisasi Sovereign Wealth Fund yang baru. Tentu belum semuanya kenal dan track record-nya diperlukan. Oleh karena itu, perhatian [Fitch] itu menjadi catatan,” tuturnya.

Mengenai upaya pembuktian kinerja dan transparansi lembaga investasi tersebut ke depan, Airlangga menyerahkan prosesnya secara penuh kepada manajemen Danantara.

Peringkat Utang Tetap Stabil

Lebih dari itu semua, Airlangga menilai yang paling krusial adalah Indonesia masih mampu mempertahankan peringkat utang di level ‘BBB’ atau masuk dalam kategori layak investasi (investment grade).

“Jadi memang dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah [perang Israel-AS vs Iran]. Tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade,” katanya.

Sebagai catatan, Fitch Ratings merevisi prospek Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) Indonesia menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil, seiring dengan ditahannya peringkat utang di level ‘BBB’ pada Rabu (4/3/2026).

“Peringkat ini tertahan oleh penerimaan negara yang lemah, tingginya biaya pembayaran utang, serta sejumlah faktor struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada pada peringkat ‘BBB’,” tulis Fitch dalam pernyataan resminya, Rabu (4/3/2026).

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *