Kondisi Korban Banjir di Kampung Tugu Masih Memprihatinkan
Kepala Desa Cikahuripan, Heri Suryana, mengungkapkan bahwa ratusan korban banjir di Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, masih belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi.
Peristiwa banjir bandang yang meluluhlantakkan kampung tersebut terjadi pada November 2025 lalu. Akibatnya, ratusan rumah terendam banjir, beberapa bangunan rumah hancur, kantor desa rusak parah, dan sekolah dasar juga mengalami kerusakan berat.
Heri menjelaskan bahwa sebanyak 497 rumah terkena dampak banjir, dengan kondisi kerusakan beragam, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat. Dari jumlah tersebut, hanya 293 rumah yang dikategorikan rusak ringan, sedang, atau berat. Namun, sampai saat ini, hanya 3 rumah yang telah mendapatkan bantuan perbaikan sebesar Rp 25 juta, dana yang berasal dari Baznas RI melalui BAZ Kabupaten Sukabumi.
“Yang terealisasi itu saya mengajukan ke BAZ Kabupaten Sukabumi, itu direalisasi oleh BAZ Pusat 3 rumah, alhamdulillah satu rumahnya itu 25 juta, alhamdulillah sekarang sudah selesai dan sudah bisa dihuni lagi,” ujar Heri.
Sementara sisanya, yaitu 290 rumah, masih belum mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa Pemda belum memberikan perhatian serius terhadap kondisi para korban banjir.
Padahal, saat peristiwa banjir terjadi, Bupati Sukabumi, Asep Japar, sempat melihat langsung kondisi para korban. Namun, meski begitu, para korban harus memperbaiki kerusakan rumah mereka sendiri menggunakan dana pribadi. Beberapa warga bahkan menghabiskan hingga Rp 15 juta untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir.
“Yang 290 itu sampai saat ini yang rusak ringan, sedang, itu belum teralisasi, tapi alhamdulillah rumah tersebut dibetulin sama warga (biaya sendiri) agar bisa dihuni. Ada beberapa rumah, 3 rumah kalau tidak salah masih ngontrak karena rumahnya tidak bisa dihuni. Dulu pak Bupati alhamdulillah sudah datang ke sini. Kami sampai saat ini belum ada realisasi, mudah-mudahan kedepannya ada perhatian,” ucap Heri Suryana.
Heri menjelaskan, selama sekitar lima bulan ini, warga sering menanyakan kepada Pemerintah Desa terkait nasib mereka yang belum kunjung mendapatkan bantuan. Sementara itu, Pemerintah Desa sendiri juga dalam kebingungan, karena kantor desa pun turut terdampak banjir dan hingga saat ini masih belum diperbaiki.
“Kalau untuk masalah rewel itu iya, yang paling dekat dengan masyarakat kan kepala desa, kalau kita menanggapinya dengan emosi bisa saja terjadi ini lah warga dengan kami.”
“Tapi kami tetap mengantisipasi supaya dengan masyarakat itu bisa kondusif dan bisa bersabar, karena kami tidak diam, kami terus mengajukan, kemarin ada tim dari dewan yang mengajukan, saya kasih datanya semuanya juga, mudah-mudahan bisa mengatasi,” ucap Heri.
“Semua warga juga pada nanyain, pak Kades gimana ini teh. Ya sabar aja lah semuanya juga sudah diajuin, mudah-mudahan Allah memberikan lewat pemerintah supaya lebih cepat,” ujar dia.
Pelayanan Masyarakat Terhambat
Kondisi kantor desa dan fasilitas di dalamnya yang rusak akibat banjir membuat pelayanan di Desa Cikahuripan saat ini terganggu. Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Heri Suryana mengatakan, saat ini di Kantor Desa hanya tersedia satu meja untuk pelayanan kepada masyarakat. Bahkan, satu meja itu dipakai bersama untuk kebutuhan proses administrasi lain di desa.
“Alhamdulillah kantor desa sampai saat ini belum (tak ada perbaikan dari Pemda), saya juga ditunggu dari dana desa, ternyata dana desa 85 persen dipakai KDMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih), tidak ada pembangunan. Sedangkan kami sedang mengajukan juga kemarin ke Kemendesa, tapi belum ada informasi,” kata Heri.
“Kami sangat ini untuk pelayanan sekarang cuma di satu meja. Karena semua meja ancur, tembok jebol, kanopi juga di depan belum dibereskan,” jelasnya.
Sebab itu, Heri pun saat ini menunggu anggaran dana desa cair, agar dana desa bisa disisihkan untuk perbaikan kantor desa dalam menunjang pelayanan kepada masyarakat Desa Cikahuripan.
“Kami paling nanti dari anggaran dana desa yang 350 juta akan menyisihkan untuk pelayanan, dalam arti untuk pembangunan kantor desa, dalam arti mininal fasilitasnya bisa nyaman untuk masyrakat,” ujar Heri.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."










