Isyana Sarasvati dan Kontroversi Video Musik “Abadhi”
Isyana Sarasvati, penyanyi ternama Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah video musik terbarunya yang berjudul Abadhi memicu perdebatan di media sosial. Beberapa pihak mengaitkan simbol-simbol dalam video tersebut dengan sekte satanis, termasuk gambar mata satu yang sering muncul. Hal ini menimbulkan spekulasi dan tudingan bahwa Isyana memiliki keterkaitan dengan ajaran tertentu.
Video musik Abadhi yang dirilis pada Februari 2026 langsung menjadi viral. Dalam unggahan di Instagramnya, Isyana menyampaikan lirik-lirik yang mencerminkan perasaan dan pengalaman hidupnya. Salah satu lirik yang menarik perhatian adalah: “Sometimes pure light, sometimes cruel tides, I am passing through.” Ia juga memberikan terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk memperjelas maknanya. Unggahan ini mendapat dukungan besar dari para penggemarnya, yang menganggap eksplorasi seni Isyana sebagai sesuatu yang progresif dan kreatif.
Suami Isyana, Rayhan Maditra Indrayanto, turut merespons isu ini melalui akun Threads-nya. Ia menilai bahwa tantangan bagi seorang seniman adalah ketika karya yang lahir dari kejujuran justru disalahpahami oleh publik. “Ujian besar bagi seorang musisi ketika karya yang lahir dari kejujuran justru dimaknai dengan cara yang jauh berbeda,” ujarnya. Rayhan juga menutup pernyataannya dengan doa, mengingat saat itu sedang memasuki bulan suci Ramadan.
Lagu Abadhi merupakan babak final atau Chapter 4 dari rangkaian konsep besar album kelima Isyana yang bertajuk Eklektiko. Konsep ini berkembang menjadi universe artistik sejak Mei 2025. Perjalanan menuju Eklektiko dimulai setelah Isyana menutup konser satu dekadenya pada 2024. Dari sana, ia menemukan pemahaman baru bahwa musik yang diciptakannya harus sepenuhnya bebas, jujur, dan sepenuh jiwa.
Proses Kreatif dalam EKLEKTICON
Isyana mempertemukan seluruh benang merah perjalanan kreatifnya selama satu tahun terakhir dalam sebuah acara intimate conference bertajuk EKLEKTICON. Acara ini digelar sebagai bagian dari rangkaian panjang semesta EKLEKTIKO, album kelima Isyana yang berkembang menjadi universe artistik sejak Mei 2025.
Dalam EKLEKTICON, Isyana membagi proses kreatifnya ke dalam empat chapter utama:
-
Chapter pertama, LUNORA, membawanya pada memori remaja masa ketika ia bertumbuh bersama teman-teman laki-laki dan belajar mengenai keindahan dalam keberagaman. Kolaborasinya dengan Hindia, Vidi Aldiano, dan Afgan pun menjadi bentuk pertemuan imajinasi dari perbedaan tersebut.
-
Chapter kedua, MAMIU, adalah dunia fantasi penuh warna yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap kartun.
-
Chapter ketiga, CECILIA, di mana Isyana memperlihatkan sisi dirinya yang feminin dan dewasa. Dari chapter ini pula lahir single terbarunya “Terima Kasih Dariku”, yang dirilis pada 5 Desember 2025 melalui label independennya, REDROSE Records.
-
Chapter keempat, ABADHI, adalah bagian terakhir dari EKLEKTIKON yang akan hadir pada Februari 2026 sebagai penyatuan seluruh persona yang membangun universe kreatif Isyana sejak tahun lalu.
Penutup
Dalam EKLEKTICON, Isyana menayangkan screening khusus untuk karya tersebut. Lagu ini ditulis bersama Petra Sihombing dan menjadi bentuk penghormatan bagi orang-orang yang hadir dan bertahan dalam hidupnya. Music video-nya turut menggandeng kolaborasi dengan brand fashion lokal untuk memperkuat narasi visual.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











