JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan kekhawatiran terhadap penurunan produktivitas sektor manufaktur nasional, yang diperkirakan turun hingga 20%–30% dibandingkan awal tahun 1990-an. Data ini diambil dari laporan World Bank. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan kesalahan dalam arah investasi. Meskipun aliran modal besar, tidak mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah industri.
“Secara nominal, sektor manufaktur Indonesia masih menjadi salah satu yang terbesar di kawasan ASEAN dengan kontribusi sekitar 18%–19% terhadap PDB. Namun, struktur nilai tambahnya masih didominasi oleh sektor berbasis komoditas dan manufaktur berteknologi rendah hingga menengah,” ujar Saleh kepada media, dikutip Senin (3/3/2026).
Saleh merujuk pada Country Growth and Jobs Report 2026 yang dirilis Bank Dunia. Laporan tersebut mencatat bahwa produktivitas manufaktur Indonesia saat ini justru lebih rendah dibandingkan tiga dekade lalu. Padahal, tingkat investasi yang masuk ke sektor industri terbilang tinggi.
Menurut Saleh, masalah utama terletak pada kualitas investasi. Sekitar 70% investasi manufaktur masih mengalir ke sektor bernilai tambah rendah, sehingga tidak mendorong peningkatan total factor productivity (TFP). “Pertumbuhan industri lebih banyak ditopang oleh ekspansi kapasitas dan kekuatan pasar, bukan peningkatan produktivitas tenaga kerja,” tambahnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya misalokasi sumber daya serta lemahnya dinamika persaingan usaha di sektor manufaktur. Jika dibiarkan, struktur industri nasional akan sulit naik kelas dan tetap terjebak pada pola pertumbuhan berbasis volume, bukan kualitas.
Untuk memperbaiki situasi, Kadin mendorong percepatan pengembangan manufaktur berorientasi ekspor dan berbasis teknologi tinggi. Beberapa sektor yang perlu digenjot antara lain otomotif dan ekosistem kendaraan listrik, elektronik dan komponen presisi, farmasi serta alat kesehatan, hingga industri kimia dan material maju.
Selain sektor manufaktur, penguatan jasa bernilai tinggi seperti teknologi informasi dan komunikasi (ICT), logistik modern, serta jasa keuangan juga dianggap krusial. Sektor-sektor tersebut memiliki efek pengganda yang besar terhadap industri pengolahan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
“Tanpa penguatan sektor-sektor tersebut, transformasi struktural menuju industri berproduktivitas tinggi akan sulit tercapai dan penciptaan pekerjaan kelas menengah akan tetap terbatas,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Kadin menilai pemerintah perlu mengubah orientasi investasi dari sekadar mengejar volume menjadi peningkatan kualitas. Reformasi kebijakan untuk menciptakan level playing field, memperkuat kompetisi, serta meningkatkan kepastian regulasi dinilai menjadi kunci agar modal mengalir ke sektor berproduktivitas tinggi.
Saleh menegaskan, kebijakan investasi seharusnya dirancang untuk meningkatkan kapabilitas industri nasional, seperti mendorong alih teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia, bukan hanya berfokus pada substitusi impor.
“Di saat yang sama, pengurangan hambatan perdagangan dan berbagai non-tariff measures yang berlebihan akan meningkatkan efisiensi dan integrasi Indonesia ke dalam global value chain,” pungkasnya.
Meski demikian, tren perkembangan aktivitas manufaktur nasional menunjukkan peningkatan positif. Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6.
S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.
“Perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti melalui rilisnya, Senin (2/3/2026).
Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025.











