"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

GUPBI Nasional Dibentuk, Wadah Peternak Tingkatkan Ekonomi Indonesia

Pembentukan GUPBI Nasional, Wadah Peternak Babi di Seluruh Indonesia

Sejumlah peternak babi dari berbagai daerah menggelar pertemuan di Kota Solo pada Jumat (27/2/2026). Pertemuan tersebut menjadi tonggak awal dibentuknya Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Nasional. Awalnya, organisasi ini muncul dari kelompok peternak daerah di Bali, kini menjadi wadah bersatunya peternak-peternak dari seluruh Indonesia.

Pertemuan yang digelar di Solo ini dihadiri hampir 100 orang peternak yang datang dari berbagai daerah di Indonesia Barat hingga Timur. Mereka akhirnya mengukuhkan struktur kepengurusan GUPBI Nasional. I Ketut Hari Suyasa, pria berpenampilan nyentrik asal Bali, secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Umum GUPBI Nasional. Ia didampingi oleh pengurus lain seperti Budi Susanto sebagai bendahara dan Adie Karjanto sebagai sekretaris.

I Ketut Hari Suyasa menjelaskan bahwa GUPBI sebenarnya merupakan organisasi peternak yang awalnya bersifat kedaerahan dan berawal di Bali. Namun, dengan banyaknya tantangan yang dihadapi oleh dirinya dan rekan-rekan sesama peternak di berbagai daerah, mereka berinisiatif membentuk GUPBI Nasional agar bisa menjadi wadah bagi para peternak babi seluruh Indonesia.

Menurutnya, banyak permasalahan terkait proteksi peternakan babi oleh pemerintah khususnya. Ini dinilai masih jauh dari harapan. Ia menyatakan bahwa peternakan babi dianggap termarjinalkan di Indonesia. Oleh karena itu, regulasi juga tidak memberikan payung hukum yang kuat dalam memproteksi budaya peternakan.

“Babi di Indonesia ini bukan datang tiba-tiba, ini sudah menjadi pekerjaan turun temurun masyarakat kita, walaupun mungkin berada di wilayah yang berbeda, termasuk di wilayah teman-teman kita yang Muslim. Tetapi tidak bisa diabaikan, ada warga Indonesia yang punya peternakan selain sapi, ayam, misalnya, ada juga peternak babi yang sudah turun temurun ada,” jelas Ketum GUPBI Nasional tersebut.

Terbentuknya organisasi berskala nasional ini diharapkan bisa menjadi jembatan antara peternak dan pemegang regulasi yakni pemerintah daerah dan pusat. “GUPBI Nasional ini dibentuk bukan untuk menjadi kompetitor organisasi yang sudah ada maupun pemerintah. Kita ingin menjadi bagian yang memberikan informasi yang utuh kepada pemerintah daerah dan pusat, khususnya agar tidak salah dan tepat dalam membuat keputusan dan kebijakan serta tidak mengesampingkan para peternak babi yang ada di Indonesia,” tambahnya.

Beliau melanjutkan bahwa sebagai peternak babi, banyak tantangan yang dihadapi oleh para anggotanya selama ini. Terbentuknya organisasi ini diharapkan bisa menjadi komunikator yang baik kepada pihak pemerintah agar tidak mengesampingkan keberadaan para peternak babi itu sendiri.

“Menurutnya, tidak cukup hanya di daerah saja, sehingga perlu dibuatkan (organisasi GUPBI) ke jenjang yang lebih tinggi. Karena ada beberapa keputusan pemerintah yang kita anggap tidak berpihak kepada para peternak babi, semisal pemerintah ingin kita berswasembada tetapi membuat kebijakan kontraproduktif dengan masuknya daging babi impor secara masif,” ujar Ketum GUPBI Nasional.

Usai disahkan sebagai organisasi peternak setingkat nasional, beliau menyebut bahwa GUPBI Nasional akan langsung menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan kementerian-kementrian yang membidangi peternakan. “Kita segera akan melakukan audiensi kepada pengambil kebijakan yang ada di atas, paling tidak ke kementerian misalnya. Kita mau menyampaikan data-data yang benar, misalnya jumlah populasi babi yang ada supaya pemerintah dapat mengkoreksi tepat tidaknya kebijakan impor daging babi yang sudah membuat resah seluruh peternak babi di Indonesia.”

Beliau berharap dengan dibentuknya GUPBI Nasional ini menjadi tonggak proteksi bagi peternak dari sektor regulasi nantinya agar tidak dianaktirikan dibanding peternak hewan lainnya di Indonesia. Ia juga menyebut bahwa adanya peternak babi tidak hanya menguntungkan para pengusaha di sektor tersebut, tetapi juga menjadi mata rantai penggerak ekonomi karena berkaitan dengan sektor-sektor lain seperti pertanian.

Bukan tanpa alasan, peternak babi disebut sangat bergantung pada produksi jagung maupun padi yang menjadi bahan dasar pakan ternak mereka. “Peternak babi ini juga menjadi bagian penggerak ekonomi pertanian di Indonesia. Ini kan juga menjadi hal yang sangat positif kalau ini bisa dikembangkan,” ungkapnya.

Terbentuknya GUPBI Nasional disambut baik oleh para peternak di daerah seperti Adi Purnomo, peternak berasal dari Kabupaten Sragen. Adanya GUPBI Nasional ini pun diharapkan oleh Adi bisa menjadi penyambung lidah peternak kecil seperti dirinya untuk bisa juga diperhatikan oleh pemerintah.

“Ya saya harapkan untuk peternak kecil seperti saya, saya harapkan GUPBI Nasional menjadi wadah, menjadi rumah yang nyaman dan aman untuk menampung aspirasi lah untuk peternak-peternak kecil seperti kita yang minim fasilitas ke pemerintah sebagai regulator,” ungkapnya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *