Sejarah dan Makna Tradisi Ojung di Situbondo
Tradisi Ojung adalah salah satu warisan budaya khas Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang masih lestari hingga saat ini. Asal usulnya berasal dari Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Situbondo. Dalam bahasa Madura, tradisi ini disebut Ojhung, sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Ojung. Tradisi ini berupa adu rotan antara dua pemain yang dipimpin oleh seorang wasit bernama Kemlandang. Tidak ada sistem menang atau kalah dalam permainan ini, sehingga fokusnya lebih pada kegembiraan dan kelangsungan acara.
Ojung tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual, sejarah, dan kebersamaan masyarakat. Selama prosesnya, para pemain melakukan gerakan tari sambil memukul menggunakan rotan. Rotan yang digunakan memiliki panjang sekitar satu meter dan cukup lentur, namun tetap bisa menyebabkan luka bahkan berdarah. Setiap pemain mendapat jatah tiga hingga lima kali cambukan dalam satu ronde yang berlangsung sekitar lima menit.
Latar Belakang dan Tujuan Ojung
Tradisi Ojung telah dilakukan secara turun-temurun oleh leluhur Desa Bugeman. Awalnya, tradisi ini digelar untuk meminta hujan dan menolak bala desa. Namun, seiring berkembangnya zaman, masyarakat meyakini bahwa Ojung memiliki beberapa tujuan utama, seperti:
- Memohon turunnya hujan, di mana tetesan darah yang jatuh ke tanah dipercaya sebagai pertanda doa dikabulkan.
- Menolak bala atau menghindari bencana alam, wabah penyakit, kematian hewan ternak, hingga gagal panen.
- Pertunjukkan kesenian rakyat, seperti Singo Ulung Situbondo atau Bantengan di Mojokerto.
- Dianggap sebagai latihan kanuragan prajurit Kerajaan Majapahit.
- Bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Hiburan rakyat dan ajang kebersamaan masyarakat.
Syarat dan Prosesi Sebelum Pertunjukan
Sebelum pertunjukan Ojung digelar, masyarakat mengadakan selametan sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini dilengkapi dengan menyiapkan berbagai sesajen, seperti:
- Nasi tujuh warna.
- Aneka bunga hingga 1.000 jenis.
- Kepala sapi, kambing, dan kerbau.
- 1.000 tusuk sate.
- Kue dengan warna menyerupai tujuh hewan buas.
- Wadah bambu (legin) untuk menaruh sesajen.
Setelah selametan, sesajen dibawa dari rumah kepala desa menuju rumah kepala adat (panitenan) untuk didoakan, memohon keselamatan dan keberkahan. Untuk keesokan harinya, baru digelar upacara adat serta penyambutan kegiatan tradisi Ojung.
Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan Ojung
Tradisi Ojung biasanya digelar pada hari Selasa, yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan upacara adat dan penyambutan, lalu pertunjukan utama digelar mulai pukul 13.00 hingga sekitar 18.00 WIB. Pertunjukan diawali dengan tarian dan iringan musik tradisional seperti gamelan, kendang, dan gong.
Ojung sebagai Warisan Budaya dan Potensi Wisata
Kini, Tradisi Ojung tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai potensi wisata budaya. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo berharap tradisi Ojung dapat dikemas lebih besar dan digelar di alun-alun kota agar menjadi daya tarik wisata budaya. “Saya minta tahun depan Ojung ini dilaksanakan di alun-alun kota Situbondo. Mudah-mudahan menambah daya tarik wisata,” ujarnya dalam acara Ojung di lapangan Kendit.
Sementara itu, Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah menilai tradisi Ojung penting dikenalkan kepada generasi muda agar nilai budaya tetap mengakar sejak dini. Menurutnya, pelestarian tradisi Ojung bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga pendidikan karakter dan kebanggaan terhadap budaya lokal.
Simbol Kekuatan dan Kebersamaan
Tradisi Ojung bukan sekadar adu ketangkasan dengan rotan. Di balik sabetan yang keras, terdapat filosofi persaudaraan. Selama pertandingan, dua pemain tampak seperti musuh. Namun setelah selesai, mereka kembali bersalaman dan saling memaafkan. Hal ini menunjukkan adanya makna mendalam dari tradisi Ojung, yakni mengandung nilai keberanian, ketahanan, sekaligus kebersamaan masyarakat. Dengan pengemasan yang lebih baik dan dukungan pemerintah daerah, tradisi Ojung di Situbondo diharapkan mampu menjadi agenda wisata budaya tahunan yang semakin dikenal luas, tanpa kehilangan nilai sakral dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur.











