Perjalanan Dakwah Ustaz Abu Haidar As-Sundawy dari Kursus Kecil hingga Yayasan Besar
Ustaz Abu Haidar As-Sundawy dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam menyebarkan dakwah berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di Kota Bandung, namanya kini menjadi perbincangan, terutama karena kajian-kajiannya yang mendalam dan mudah dipahami. Kini, dia mengasuh Yayasan Tarbiyah Sunnah yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial.
Kajian Ustaz Abu Haidar sering kali disiarkan melalui YouTube. Dia menyampaikan materi-materi tentang akidah, fikih, serta penyucian jiwa dengan gaya yang detail dan mudah dicerna. Bahkan, dia sering menjawab permasalahan umat berdasarkan rujukan kuat dari ulama-ulama salaf. Dengan cara ini, kajian-kajiannya menarik banyak perhatian masyarakat hingga sering diundang untuk mengisi kajian di berbagai daerah. Dalam satu hari, ustaz Haidar bisa berdakwah di tiga lokasi berbeda.
Namun, di balik kesuksesan saat ini, ada perjalanan panjang yang dilalui oleh Ustaz Abu Haidar. Pada awal tahun 1990-an, ketika internet belum dikenal luas, kaset menjadi media utama yang digunakan untuk penyebaran ilmu agama. “Dulu zaman kaset tahun 90-an belum ada internet, jadi setiap kajian direkam,” ujarnya saat ditemui usai mengisi kajian di Masjid Al-Ukhuwwah, Kota Bandung.
Dari situlah perjalanan Ustaz Haidar dimulai. Mahasiswa di Bandung yang berasal dari berbagai daerah membawa kaset-kaset itu pulang ke kampung halaman, hingga akhirnya dakwah menyebar dan undangan pun berdatangan dari luar kota. “Mahasiswa di Bandung banyak dari daerah. Apa yang terjadi? Akhirnya mereka bawa berita ini ketika mereka pulang kampung, terus disana diceritakan,” kata Ustaz Haidar.
Sebelum memulai perjalanan dakwahnya, Ustaz Abu Haidar membuka kursus bahasa Arab sederhana dengan beberapa peserta saja. Saat itu, tidak ada gedung megah atau struktur organisasi besar. “Pada saat itu, hanya semangat mengajarkan bahasa Arab. Namun dari ruang belajar kecil itu lahir gelombang dakwah yang terus membesar.”
Setelah peserta menyelesaikan kursus bahasa Arab, mereka tak berhenti. Mereka mulai mempraktikkan membaca kitab langsung dan membahas isi serta maknanya. Akhirnya, kajian demi kajian berjalan rutin dan materi yang dibahas pun semakin luas. “Lama-lama teman mereka ikutan datang, akhirnya bareng jadi pengajian. Pada awalnya, pengajian kita membahas kitab akidah (tauhid), kitab fikih, kitab akhlak dan kitab Riyadus Shalihin,” ucapnya.
Dari rumah pribadinya, majelis ilmu itu makin ramai hingga tetangga mulai bertanya-tanya karena ruangan tak lagi cukup. Akhirnya, kajian dipindahkan ke masjid dan di sana, jumlah jamaah semakin bertambah banyak. Pada saat itu, muncul pertanyaan dari warga soal siapa penyelenggaranya kegiatan tersebut. Dari sana maka lahirlah sebuah keputusan penting, dia mendirikan yayasan sebagai payung hukum yang resmi dan legal.
“Kemudian dari sana berkembang, lalu ada yang minta saya untuk isi kajian di masjid-masjid lain. Akhirnya berkembang,” ujar Ustaz Haidar.
Seiring waktu, yayasan umat itu kini berkembang dan bergerak dalam tiga bidang utama, yakni dakwah kajian rutin kitab, Dauroh (pelatihan intensif), tabligh akbar dengan menghadirkan ustaz dari berbagai daerah. Selain itu, yayasan tersebut juga aktif dalam aksi sosial seperti membantu Penanggulangan bencana, pengiriman tim langsung ke lokasi bencana, khitanan massal, pengobatan gratis, pembagian sembako, serta santunan janda dan dhuafa.
“Jadi yayasan kita tidak hanya bergerak satu bagian, tapi di tiga bidang dan sampai sekarang Alhamdulillah semakin berkembang,” katanya.
Dari kursus kecil di ruang rumah, kini tumbuh menjadi lembaga yang menaungi pendidikan, dakwah, dan sosial secara terpadu. Perjalanan ini membuktikan bahwa dakwah besar sering kali berawal dari langkah kecil yang konsisten.











