Festival Ramadan 2026 di Jalan Siliwangi Kota Cirebon Mulai Beroperasi
Sejak 1 Ramadan 1447 Hijriah, sepanjang 1,7 kilometer Jalan Siliwangi di Kota Cirebon kini berubah menjadi sentra takjil dan fashion yang paling besar di pusat kota. Kegiatan ini menarik perhatian banyak masyarakat dan pedagang, dengan 498 lapak yang disiapkan dari depan PGC hingga sebelum persimpangan Krucuk.
Festival Ramadan 2026 mulai berlangsung pada Kamis (19/2/2026) dan langsung ramai dengan aktivitas para pedagang yang telah mendapatkan tempat sesuai pembagian segmen. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon, Iing Daiman menjelaskan bahwa jalur tersebut sudah dipersiapkan secara matang agar tertata dan merata.
“Festival Ramadan 2026 ini memanfaatkan jalur sepanjang 1,7 kilometer, mulai dari PGC hingga sebelum persimpangan Krucuk. Kami telah menyiapkan 498 lapak berukuran 2×2 meter yang sudah ditandai di sepanjang jalur festival. Kegiatan sudah dimulai kemarin,” ujar Iing saat diwawancarai, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa ratusan lapak tersebut dibagi ke dalam empat segmen untuk memudahkan penataan.
“Dari 498 lapak itu terbagi dalam empat segmen, yaitu segmen 1 sebanyak 81 lapak, segmen 2 ada 73 lapak, segmen 3 sebanyak 107 lapak, dan segmen 4 ada 79 lapak,” ucapnya.
Menurut Iing, penempatan lapak dilakukan dengan sistem undian guna menghindari kecemburuan antarpedagang.
“Penempatan lapak dilakukan dengan sistem undian supaya adil dan tidak ada kecemburuan,” jelas dia.
Pemkot Cirebon juga menyediakan berbagai fasilitas umum untuk menunjang kenyamanan pedagang dan pengunjung.
“Kami siapkan penerangan, tempat sampah, toilet umum, area parkir, keamanan, kebersihan, dan posko kesehatan,” katanya.
Namun demikian, instalasi listrik tidak difasilitasi pemerintah.
“Instalasi listrik tidak kami sediakan. Pedagang yang membutuhkan aliran listrik diimbau menggunakan genset secara bersama-sama dan dilarang menyambung ke lampu PJU atau menggunakan sambungan ilegal,” ujarnya.
Selain itu, pedagang juga diwajibkan menjaga ketertiban.
“Pedagang tidak boleh menempati trotoar, harus membawa kantong sampah masing-masing, dan seluruh peralatan lapak wajib dibawa pulang setelah berjualan,” ucap Iing.
Festival Ramadan ini beroperasi mulai pukul 15.00 WIB hingga 04.00 WIB, dengan produk yang diperbolehkan dijual hanya kuliner dan fashion.
Untuk mendukung kelancaran pengunjung, Pemkot menyiapkan sejumlah titik parkir, di antaranya di depan Hotel Bentani, Rumdin Danlanal, Maybank, Hotel Prima, PGC, Griya Mandiri, Metland Hotel, Hotel Slamet, hingga area parkir DPRD dan Balaikota.
Iing berharap festival ini mampu mendongkrak ekonomi pelaku UMKM sekaligus memberikan pengalaman berbelanja yang nyaman bagi masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo sebelumnya menegaskan bahwa penataan sentra takjil tersebut sudah melalui beberapa kali rapat internal.
“Ya ini sudah beberapa kali kita rapatkan di internal kita. Mudah-mudahan pada saat pelaksanaannya nanti pedagang bisa tertib, pembelinya nyaman, lalu kota tetap tertib, bersih dan kondusif,” ujar Edo, Kamis (12/2/2026).
Ia menekankan bahwa aktivitas jualan tersebut bersifat sementara dan hanya diperbolehkan selama Ramadan.
“Momennya hanya di bulan Ramadan. Jadi tidak ada lagi setelah Ramadan terus berjualan di situ,” ucapnya.
Meski sebagian badan jalan digunakan untuk lapak, arus lalu lintas dipastikan tetap berjalan normal.
“Enggak, enggak. Kita punya space 18 meter. Kalau kita diambil hanya 3 meter, berarti kita masih punya space 15 meter untuk lalu lalang,” katanya.
Dengan penataan tersebut, Jalan Siliwangi yang berada tepat di depan Balai Kota kini menjadi pusat pergerakan ekonomi musiman Ramadan, namun tetap dalam pengawasan dan aturan ketat Pemerintah Kota Cirebon demi menjaga ketertiban dan kebersihan kota.










