"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Momentum Ramadan, Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Bantuan Sosial untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Dunia Melayu Dunia Islam Indonesia (DMDI Indonesia) bersama Artha Graha Peduli menggelar buka puasa bersama Ramadhan 1447 H sekaligus menyalurkan 10.000 bingkisan kepada anak yatim dan warga miskin korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan tersebut menyasar 10.000 warga terdampak sebagai bentuk kepedulian kedua lembaga terhadap masyarakat yang masih berjuang pulih pascabencana.

Selain penyaluran bantuan, mereka juga melakukan pembersihan rumah ibadah, sekolah, serta TPA/TK Al-Qur’an di wilayah terdampak. Ketua Umum DMDI Indonesia, Said Aldi Al Idrus, menjelaskan bahwa seluruh bantuan bersama tim yang diturunkan telah untuk membantu warga yang paling penting, yaitu membantu pemerintah mempercepat pemulihan pasca bencana.

Rangkaian Aksi Kemanusiaan

Kegiatan buka puasa bersama ini merupakan rangkaian aksi kemanusiaan DMDI Indonesia dan Artha Graha Peduli pascabencana yang melanda tiga provinsi tersebut. Said Aldi menambahkan, kehadiran tim relawan DMDI Indonesia dan Artha Graha Peduli di lokasi bencana telah berlangsung lebih dari dua bulan.

“Bersama warga, tim telah berupaya maksimal untuk membersihkan rumah rumah warga yang terkena banjir bandang maupun longsor. Selain itu juga rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya,” imbuhnya.

Aksi sosial tersebut merupakan program rutin yang difokuskan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. “Dengan kata lain, kami secara konsisten berupaya hadir di tengah masyarakat saat bencana melanda dan memastikan bantuan mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama pada masa tanggap darurat,” kata Presiden Pemuda Masjid Dunia itu.

Peran Relawan dalam Penyaluran Bantuan

Sementara itu, Koordinator Lapangan Artha Graha Peduli Husin mengatakan, relawan ditugaskan memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga. “Dan juga memberikan semangat kepada warga yang mengalami bencana. Dengan hadirnya tim relawan serta bantuan uang Tunai serta keperluan lainnya yang diberikan dapat mengurangi beban masyarakat terdampak banjir disaat memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H,” tutur Husin.

Menteri Dalam Negeri yang juga Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menegaskan percepatan pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar normalisasi wilayah terdampak, tetapi memastikan kepastian hunian bagi masyarakat.

Progres Pembangunan Hunian Sementara dan Tetap

Dalam rapat bersama Pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026), Tito memaparkan progres pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah mencapai sekitar 50 persen dari total usulan. “Ini totalnya usulan huntara itu 16.688, yang sudah selesai dibangun 8.290 atau 50 persen. Huntap usulan dari semua Pemda 16.329, yang sedang dibangun 1.254. Ini yang perlu percepatan untuk huntap,” terang Tito.

Secara rinci, di Aceh diusulkan 14.697 unit huntara. Sementara usulan hunian tetap (huntap) sebanyak 9.246 unit, dengan 302 unit di antaranya sedang dibangun. Di Sumatera Utara, terdapat 993 usulan huntara dan 893 unit telah selesai dibangun. Untuk huntap, terdapat 3.462 usulan dan 297 unit dalam tahap pembangunan.

Adapun di Sumatera Barat, usulan huntara mencapai 728 unit dan 721 unit telah rampung. Untuk huntap, dari 3.611 usulan, sebanyak 655 unit sedang dibangun.

Pemerintah juga tetap menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tidak tinggal di huntara, sebesar Rp1,8 juta untuk tiga bulan. Tito pun menjelaskan, penyaluran bantuan telah mencapai 93,87 persen di Aceh, 99,47 persen di Sumatera Utara, dan 97,17 persen atau lebih kurang 96,48 persen di Sumatera Barat.

Penurunan Jumlah Pengungsi

Selain progres hunian, Tito mengungkapkan jumlah pengungsi mengalami penurunan sangat signifikan. Pada Desember 2025, jumlah pengungsi sempat menembus lebih dari satu juta orang. Kini, tersisa 12.994 orang yang masih berada di tenda pengungsian.

“Pengungsi tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda,” kata Tito. Dia pun menjelaskan, bahwa di Sumatera Barat, tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda. Warga telah kembali ke rumah masing-masing, menempati huntara, atau tinggal sementara bersama keluarga sambil menunggu pembangunan huntap.

“Jadi Alhamdulillah untuk Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak, tidak terdapat pengungsi di tenda,” ujarnya.

Upaya Pemulihan Infrastruktur

Meski tren pengungsi menurun, upaya pemulihan infrastruktur masih terus dikebut. Beberapa daerah masih membutuhkan perhatian khusus. Di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, tumpukan kayu pascabanjir masih mengganggu akses jalan. Sedimentasi sungai juga menghambat fungsi normal aliran air.

Di Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah, perbaikan sarana pendidikan menjadi prioritas. Sementara di Nagan Raya, normalisasi sungai terus dilakukan agar kembali berfungsi optimal. Pemerintah juga menangani fenomena tanah amblas yang memutus jalan kabupaten di Aceh Tengah.




Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *