"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Tarawih 119 Tahun di Ponpes Mambaul Hikam Blitar Selalu Penuh Jemaah

Tradisi Salat Tarawih Cepat di Pondok Mantenan yang Berlangsung Selama 119 Tahun

Di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah tradisi unik yang telah berlangsung selama 119 tahun. Tradisi ini adalah salat tarawih cepat yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam atau lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan. Setiap bulan Ramadhan, ratusan jemaah dari berbagai wilayah seperti Kediri dan Tulungagung hadir untuk mengikuti salat tarawih yang hanya memakan waktu sekitar 10-13 menit.

Pada malam Kamis (19/2/2026), suasana di Masjid Pondok Mantenan tampak ramai. Jemaah mulai berkumpul setelah buka puasa, dan saat adzan isya berkumandang, mereka langsung memenuhi masjid yang memiliki kapasitas sekitar 750 orang. Bagi jemaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid, mereka menggelar sajadah di atas terpal di halaman masjid. Meskipun begitu, semua tetap khusyuk mengikuti salat isya yang diikuti oleh salat tarawih dan witir.

Salat tarawih cepat di Pondok Mantenan tidak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga banyak jemaah dari luar daerah. Salah satu jemaah, Romadoni (31), mengatakan bahwa ia selalu mengikuti salat tarawih di sini setiap Ramadhan. Ia menyukai suasana yang selalu ramai dan durasi salat yang lebih cepat dibandingkan tempat lain. Menurutnya, salat tarawih cepat cocok untuk jemaah yang masih muda karena gerakan salat bisa diikuti dengan kecepatan yang sesuai.

Selain Romadoni, Slamet (27) juga merupakan jemaah tetap yang rutin datang. Ia mengaku senang dengan durasi salat yang singkat, sehingga bisa segera pulang dan beristirahat. Jarak rumahnya dengan Pondok Mantenan sekitar 2 kilometer, dan ia biasanya menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sana.

Sejarah dan Filosofi Salat Tarawih Cepat

Menurut pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya’uddin Azzamzami atau Gus Dliya’, salat tarawih cepat di Pondok Mantenan sudah dimulai sejak tahun 1907, yaitu ketika Mbah Abdul Ghofur, pendiri Pondok Mantenan dan kakek dari Gus Dliya’, mencetuskan tradisi ini. Tujuan utama dari salat tarawih cepat adalah untuk meningkatkan partisipasi jemaah, terutama bagi warga yang masih mualaf dan mayoritas pekerja serta petani.

Gus Dliya’ menjelaskan bahwa dulu, ketika salat tarawih dilakukan dengan durasi normal, jumlah jemaah semakin berkurang. Namun, setelah salat tarawih dilakukan dengan durasi yang lebih cepat, antusiasme jemaah meningkat secara signifikan hingga akhir Ramadan.

Standar Durasi dan Penerapan Salat

Meski durasi salat tarawih cepat, Gus Dliya’ menekankan bahwa standar salat tetap dipertahankan. Semua rukun dan sunnah dalam salat tetap dilaksanakan, termasuk bacaan Alfatihah, surat-surat pendek, dan sunah-sunah lainnya. Durasi rata-rata salat tarawih di Pondok Mantenan adalah 13-15 menit, namun jika imamnya muda, durasinya bisa lebih singkat, yaitu sekitar 10 menit.

Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual warga sekitar dan menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat dijaga dan dilestarikan dalam bentuk ritual ibadah yang khas.


Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *