"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Gema Tujuh Muazin di Kota Wali: Rahasia Azan Pitu Kasepuhan Cirebon

Sejarah dan Tradisi Unik Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kota Cirebon memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan tradisi. Salah satu ciri khasnya adalah Azan Pitu, sebuah azan yang dikumandangkan oleh tujuh muazin setiap shalat Jumat. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap gangguan dan bala.

Arsitektur yang Mencerminkan Akulturasi Budaya

Bangunan masjid ini menunjukkan perpaduan antara arsitektur Islam dengan unsur lokal Jawa dan Hindu-Buddha. Dinding bata merah tanpa plester menjadi ciri khas bangunan ini, sementara mihrab kuno dengan ukiran batu bata menggambarkan kekayaan seni masa lalu. Di dalam ruangan, terdapat pendingin udara modern dan sajadah di lantai, mencerminkan keselarasan antara tradisi dan kemajuan.

Selain itu, ada jam kayu besar di sisi kiri masjid, serta konstruksi kayu Soko Guru yang kokoh menopang atap. Lampu gantung kristal besar menghiasi tengah ruangan, memberikan nuansa mewah dan historis. Jemaah laki-laki duduk bersila di atas karpet hijau, sementara di area serambi, beberapa jemaah beristirahat di atas karpet merah. Rak-rak kitab berjajar di belakang, lengkap dengan papan penanda ‘Batas Suci’ dan jam dinding besar.

Asal Usul Azan Pitu

Azan Pitu lahir dari suatu peristiwa unik pada masa awal berdirinya masjid. Menurut cerita turun-temurun, pada awalnya azan dikumandangkan oleh satu orang. Namun, karena adanya gangguan dari seorang tokoh bernama Menjangan Wulung, azan dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan.

Kisah tersebut menyebutkan bahwa setiap muazin yang mengumandangkan azan akan jatuh sakit akibat serangan gaib. Hingga akhirnya, azan dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan. Setelah itu, Azan Pitu dipercaya mampu menangkal gangguan dan bala. Bahkan saat wabah Covid-19, tradisi ini kembali dikumandangkan sebagai upaya spiritual.

Penggunaan Azan Pitu Kini

Seiring dengan kondisi yang dinilai lebih aman, para sesepuh masjid memutuskan untuk mengubah pelaksanaan Azan Pitu. Awalnya, azan ini dikumandangkan setiap shalat lima waktu, tetapi kini hanya dilakukan saat shalat Jumat. Hasil musyawarah menentukan bahwa azan biasa kembali dilakukan oleh satu orang, sedangkan Azan Pitu dialihkan ke shalat Jumat.

Tradisi ini dijalankan secara turun-temurun oleh para pengurus masjid yang merupakan keturunan pengurus sebelumnya. Setiap pengurus masjid di sini merupakan bagian dari turun-temurun keturunan pengurus juga. Jika tidak punya keturunan laki-laki, biasanya diambil dari keponakan atau saudara laki-laki.

Peran Tujuh Muazin dan Seragam Petugas

Tujuh muazin berdiri berjejer di depan ruang utama masjid, masing-masing memegang mikrofon dan menutup telinga. Nada azan dilantunkan datar, tanpa banyak cengkok. “Nadanya dari dulu tidak ada cengkoknya, nadanya datar saja,” ujar pengurus masjid.

Dalam pelaksanaannya, terdapat keterlibatan dua kesultanan Cirebon, yakni Kesultanan Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Warna seragam menjadi penanda petugas yang bertugas. “Kalau sekarang pakai seragamnya hijau, berarti petugasnya dari Keraton Kanoman. Kalau pakai seragam putih, berarti dari Kasepuhan,” jelas pengurus masjid.

Total pengurus masjid mencapai sekitar 30 orang, terbagi dalam beberapa kelompok tugas, mulai dari imam, khatib, muazin, hingga marbot. Bagi masyarakat Cirebon, Azan Pitu bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat sejarah perjuangan dakwah dan simbol kewaspadaan menjaga warisan leluhur.




Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *