"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Glenn Bakri, Atlet Panjat Tebing Sumut, Jaga Kebugaran Saat Ramadan dengan Fokus Latihan Sore

Ramadan: Momentum untuk Menata Kembali Ritme Kehidupan

Ramadan, bulan suci yang penuh makna bagi umat Muslim, selalu membawa nuansa khusus bagi setiap individu. Bagi Glenn Bakri, atlet panjat tebing andalan Sumatera Utara, bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyelaraskan ibadah, kedekatan dengan keluarga, serta tanggung jawab sebagai atlet prestasi.

Nama Glenn Bakri mulai dikenal publik setelah berkontribusi dalam keberhasilan tim panjat tebing Sumut yang meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut. Ia tampil di nomor speed relay putra beregu bersama BMR Inzghi dan Rian Gordon, mengukir prestasi membanggakan di panggung olahraga nasional.

Setelah euforia PON yang penuh tekanan dan sorak sorai kemenangan, Glenn kini kembali menjalani Program Pembinaan Intensif (PPI) yang digagas KONI Sumut. Program ini menjadi tahap awal dalam membangun kembali fondasi performa, memperbaiki detail teknik, serta mengembalikan kondisi fisik setelah masa transisi tanpa target kejuaraan besar.

Adaptasi Awal Puasa

Memasuki Ramadan, Glenn mengakui bahwa hari pertama puasa masih menjadi masa adaptasi. Ia menjelaskan bahwa meskipun tim diberi waktu libur pada awal puasa, tidak berarti tidak ada aktivitas sama sekali.

“Kami masih libur, tapi mungkin ada latihan mandiri seperti push up, pull up, sit up, squat untuk menjaga kebugaran,” ujar Glenn.

Latihan ringan tersebut penting untuk menjaga kebugaran dasar agar tubuh tidak terlalu kaget saat kembali menjalani sesi reguler. Ia dan rekan-rekannya berupaya mempertahankan kekuatan otot inti dan daya tahan tubuh, meski dalam intensitas minimal.

Penyesuaian Jadwal Latihan

Pada hari kedua dan seterusnya, program latihan kembali berjalan, namun dengan penyesuaian. Glenn menjelaskan bahwa skema latihan selama Ramadan difokuskan pada satu sesi saja.

“Di hari kedua nanti dan seterusnya sudah mulai latihan seperti biasa, mungkin intensitasnya diturunkan. Biasanya ada latihan pagi dan sore, tapi untuk bulan puasa ini fokusnya di latihan sore,” jelasnya.

Keputusan memusatkan latihan di sore hari diambil dengan mempertimbangkan kondisi energi atlet yang berpuasa. Selain itu, belum adanya agenda kejuaraan besar dalam waktu dekat membuat tim pelatih memilih pendekatan yang lebih konservatif, dengan penekanan pada pematangan teknik dibandingkan peningkatan fisik secara intens.

“Jadi mungkin intensitasnya rendah dan jumlah sesinya cuma Senin sampai Sabtu, tapi teknik semua, nggak ada fisik,” tambahnya.

Momen Memperbaiki Pola Hidup

Bagi Glenn, Ramadan bukan hanya soal penyesuaian jadwal latihan, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup. Ia mengakui bahwa dalam periode tanpa target pertandingan setelah PON, pola makan dan aktivitas di luar latihan sempat kurang terkontrol. Ramadan menjadi kesempatan untuk kembali membangun disiplin, terutama dalam menjaga berat badan dan komposisi tubuh.

“Kalau semisalnya menjalani puasa hari pertama ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita juga menunggu kan bulan ini karena satu sisi di bulan puasa ini kita juga bisa menurunkan berat badan,” katanya.

Ia menilai asupan makanan yang lebih teratur saat sahur dan berbuka membantu mengontrol berat badan, terutama ketika belum memasuki fase kompetisi. Meski demikian, adaptasi tetap terasa di awal-awal puasa.

Perbandingan Tahun Ini dengan Tahun Lalu

Glenn juga membandingkan Ramadan tahun ini dengan pengalaman tahun sebelumnya. Pada 2025, latihan tim cenderung tidak rutin karena tidak ada target kompetisi setelah PON. Kondisi tersebut membuat beban latihan selama bulan puasa relatif lebih ringan.

“Puasa tahun 2025 itu bisa dibilang puasa pertama kami yang latihannya tidak rutin. Karena setelah PON tidak ada lagi target dan pertandingannya juga sudah selesai, jadi mungkin puasa tahun lalu tidak terlalu berat karena latihan di bulan puasa itu mungkin tiga kali seminggu,” jelasnya.

Berbeda dengan tahun ini, Glenn dan tim kembali menjalani PPI secara konsisten sebagai bagian dari upaya mengejar ketertinggalan performa yang sempat terhenti.

Kehidupan Keluarga di Bulan Ramadan

Di balik disiplin sebagai atlet, Glenn tetaplah seorang anak yang menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Hari pertama puasa ia sambut dengan sederhana di rumah bersama kedua orang tuanya di Medan. Kakak dan abangnya yang berada di Jakarta tidak pulang, sehingga suasana Ramadan kali ini terasa lebih hening, namun tetap hangat.

“Puasa pertama ini saya sambut di rumah bersama keluarga. Hari pertama itu pasti harus bersama orang tua, karena di Medan tinggal berdua sama orang tua, kakak sama abang di Jakarta tidak pulang. Jadi ya berdoa dulu bersama orang tua saja,” tuturnya.

Kesimpulan

Bagi Glenn Bakri, Ramadan adalah fase penguatan menyeluruh—fisik, mental, dan spiritual. Di antara dinding panjat, stopwatch, dan target prestasi, ia tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi perjalanan kariernya: disiplin dalam latihan, konsistensi dalam doa, serta dukungan keluarga yang tak pernah absen di setiap langkahnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *