Perdebatan Awal Ramadhan dan Metode Hisab Kalender Hijriah Global Tunggal
Perdebatan mengenai penentuan awal bulan Ramadhan kembali muncul, kali ini dengan fokus pada metode hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan oleh organisasi Muhammadiyah. Pendekatan ini memicu perdebatan di kalangan umat Islam, terutama karena menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, meskipun hilal belum terlihat di langit Indonesia.
Kontroversi ini muncul karena konsep waktu dalam Islam sangat penting, terkait dengan pelaksanaan ibadah seperti shalat, puasa, dan lainnya. Beberapa pihak menilai bahwa metode KHGT “menabrak batas siang dan malam”, yang bisa berdampak pada pelaksanaan kewajiban agama secara tepat.
Salah satu suara kritis datang dari Akram SP, yang menyampaikan pendapatnya melalui unggahan di media sosial. Menurutnya, pendekatan global KHGT terlalu jauh melampaui logika konsep waktu (sunnatullah), meski berbasis pada data astronomi yang sangat presisi. Ia menyoroti bahwa Indonesia tidak mungkin melihat hilal malam ini, lalu mengapa Muhammadiyah buru-buru menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada esok hari?
Menurut Akram, metode hisab KHGT sebenarnya adalah pengembangan dari pendekatan hisab yang sudah ada, dengan tujuan menyatukan seluruh dunia dalam satu kalender hijriah. Gagasan ini lahir dari Konferensi Istanbul pada 2016 dengan slogan besar: One Day, One State. Satu Bumi, Satu Tanggal.
Prinsipnya sederhana namun radikal: jika hilal terlihat di ujung dunia manapun, maka seluruh penduduk bumi harus masuk hari hijriah baru bersama-sama. Tujuan ini ingin menghapus perbedaan tanggal antarnegara dalam kalender Islam. Secara visi, ini terdengar indah dan menarik karena bisa menyatukan umat secara global. Namun, secara praktik, muncul problem mendasar karena adanya perbedaan siang dan malam di bumi.
Simulasi menarik untuk Ramadhan 1447 H (2026 M) menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan KHGT, syarat hilal bisa terlihat (imkanur rukyah) kemungkinan besar baru terpenuhi di wilayah Alaska, AS. Ketika hilal itu secara teoritis muncul di ufuk Alaska saat Maghrib mereka tanggal 17 Februari, kita di Indonesia sedang melakukan apa? Kita sedang beraktivitas pukul 11.00 siang tanggal 18 Februari. Secara fisik hilal belum ada di langit kita, tapi kita dipaksa mengakui masuknya tanggal 1 Ramadhan.
Akram menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan Muhammadiyah melalui KHGT sebenarnya dapat dipahami dengan konsep transfer rukyat atau meminjam penglihatan yang dikenal di Indonesia selama ini. Contoh klasik adalah ketika hilal terlihat di Aceh saat Maghrib, saudara kita di Papua ikut berlebaran besoknya, meski saat itu di Papua sudah malam larut dan bulan sudah terbenam lama. Papua meminjam penglihatan Aceh, yang merupakan konsep penyatuan Matla’ (zona terbit) dalam skala negara.
Apa yang dilakukan Muhammadiyah dengan pendekatan hisab KHGT, menurut Akram, berusaha membawa logika Aceh-Papua ke level yang lebih ekstrem, tingkat dunia. Jika kita saja bisa menyatukan matla’ dari Sabang sampai Merauke yang beda 3 jam, kenapa tidak menyatukan matla’ dari Alaska sampai Jakarta atau sampai Selandia Baru?
Bagi pendukung KHGT, batas negara itu imajiner. Bumi ini bak satu hamparan masjid. Jadi, batas matla’ harusnya dapat diperluas melingkupi seluruh bola bumi (Global Horizon). Namun, membawa matla’ melingkupi seluruh dunia tentu tidak sesederhana itu karena membawa tantangan yang rumit mengingat menabrak batas waktu siang dan malam.
Pada kasus Aceh-Papua, keduanya masih berada dalam satu malam yang sama. Tapi pada kasus Alaska-Indonesia, perbedaannya menabrak logika waktu (berbeda 16 jam). Saat Alaska Maghrib, Indonesia siang bolong. Memulai hari baru (misal Ramadhan) saat matahari masih di atas kepala terasa mengganjal secara sunnatullah, meski secara administratif mungkin memudahkan.
Pemerintah melalui Kementerian Agama dan ormas Nahdlatul Ulama (NU) memilih sikap lebih berhati-hati mengingat ibadah sangat terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Logikanya seperti sholat Dzuhur. Kita tidak sholat hanya karena di Makkah sudah adzan. Kita bersujud saat matahari tergelincir di langit kita sendiri. Memaksakan puasa saat hilal belum hadir di cakrawala kita, dianggap terlalu jauh melangkah dari teks rukyah yang menuntut adanya pembuktian empiris (pengamatan).
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











