Sejarah dan Keunikan Rumah Kopi Cahaya Timur di Manado
Rumah kopi yang berada di kota Manado, Sulawesi Utara, memiliki sejarah panjang dan keunikan tersendiri. Salah satu yang terkenal adalah Cahaya Timur, sebuah rumah kopi legendaris yang dulunya bernama Tong Fang. Lokasinya berada di New Bendar 45, yang konon merupakan tempat pertama kali rumah kopi ini berdiri.
Cita Rasa yang Tidak Tergantikan
Meski kini banyak bermunculan rumah kopi modern di kota Manado, Cahaya Timur tetap bertahan karena cita rasa kopi yang khas dan metode pembuatannya yang tradisional. Pemiliknya, Ko Chen, yang sudah berusia 67 tahun, menjaga keaslian kopi dengan cara membuat sendiri dari proses penyangraian hingga penyajian. Ia tidak hanya menjadi barista, tapi juga pelayan yang akrab dengan para pengunjung.
- Nuansa kuno yang masih terasa
- Dinding yang menghitam akibat asap bara
- Kayu bagian luar yang lapuk
- Poster caleg yang terpampang di dinding
- Karung-karung kopi yang menumpuk di pojok ruangan
Kehadiran rumah kopi ini memberikan suasana yang berbeda dibandingkan tempat-tempat lain. Pengunjung yang datang biasanya berusia lanjut dan saling berbincang tentang berbagai topik, mulai dari kesehatan hingga politik, sambil menikmati kopi dan nasi jaha.
Perkembangan dan Perubahan Nama
Dulu, rumah kopi ini berada di arah lima, istilah kuno untuk pasar 45 Manado. Pada tahun 1973, atau dua tahun setelah tempat itu berdiri, rumah kopi ini pindah ke Shopping Centre dan mencapai masa kejayaannya. Denny, salah satu tokoh lokal, mengatakan bahwa pada masa itu, rumah kopi ini buka pukul dua pagi dan langsung diserbu oleh warga.
Pergantian nama dari Tong Fang menjadi Cahaya Timur terjadi menyusul kebijakan pemerintah orde baru yang ingin mengganti nama-nama berbau Cina dengan nama Indonesia. Dalam bahasa Mandarin, “Tong Fang” berarti “Cahaya Timur”, sehingga nama tersebut dipertahankan.
Tantangan dan Ketekunan
Di awal tahun 2000-an, perkembangan kota Manado membuat banyak rumah kopi bermunculan. Namun, Cahaya Timur tetap memiliki pelanggan fanatik yang datang dari berbagai kalangan, termasuk ASN, buruh, pensiunan, polisi, dan pejabat.
Ko Chen tetap mempertahankan cara membuat kopi seperti yang diajarkan oleh kakeknya, yaitu dengan menggunakan bara. Hal ini menjadi alasan ia enggan pindah ke tempat lain, terutama mall yang melarang penggunaan bara.
Selain kopi susu dan hitam, menu lainnya adalah roti dan aneka kue. Dulu, roti dibuat sendiri, namun kini tidak lagi karena tidak ada alat yang memadai.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha ini kesulitan, tetapi Ko Chen tidak menyerah. Ia terus mengelola semua hal sendirian, mulai dari membuat kopi, melayani tamu, hingga menjadi kasir.
Ia sendiri belum tahu sampai kapan akan terus membuka rumah kopi ini. Namun, alasan utamanya adalah warisan leluhur dan kecintaan masyarakat terhadap suasana klasik yang dimiliki rumah kopi ini.
Cahaya Timur tidak hanya sekadar tempat minum kopi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan budaya kota Manado. Kehadirannya memberikan nuansa kuno yang sulit ditemukan di tempat-tempat modern saat ini.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











