"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

15 Tahun Dorman, Reaktor Nuklir Jepang Kembali Beroperasi

Pengaktifan Kembali Reaktor Nuklir di Jepang

Pada hari ini, Senin 9 Februari 2026, Tokyo Electric Power Company (TEPCO) kembali mengaktifkan reaktor nuklir Nomor 6 yang berada di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa, yang terletak di pusat Prefektur Niigata, Jepang. Ini adalah pengaktifan ulang yang dilakukan setelah sebelumnya pada bulan lalu sempat dihentikan karena memicu alarm.

Reaktor Nomor 6 tersebut sebelumnya pernah diaktifkan kembali pada 21 Januari lalu, namun dimatikan kembali setelah berjalan selama 29 jam. Penyebabnya adalah alarm yang berbunyi saat ekstraksi control rods sedang dilakukan. Control rods adalah komponen penting dalam pengendalian reaksi nuklir, dan kegagalan dalam pengoperasiannya dapat menyebabkan risiko keselamatan yang serius.

TEPCO kemudian menemukan adanya kesalahan setelan alarm pada perangkat pemindah salah satu control rods. Perusahaan telah melakukan perbaikan dan memberi jaminan bahwa masalah tersebut sudah diperbaiki. Pada hari ini, pukul 14 waktu setempat, reaktor kembali diaktifkan. Operator PLTN melaporkan bahwa reaktor berhasil mencapai reaksi rantai mandiri yang disebut kritikalitas.

Rencana Operasional dan Inspeksi

TEPCO berencana untuk meningkatkan output reaktor agar dapat mulai membangkitkan listrik secara penuh dan mentransmisikannya ke jaringan listrik pada 16 Februari mendatang. Setelah itu, reaktor akan dimatikan kembali selama seminggu penuh pada akhir Februari untuk inspeksi. Rencananya, operasi komersial akan dimulai pada 18 Maret.

Kepala PLTN Kashiwazaki-Kariwa, Inagaki Takeyuki, menyatakan bahwa TEPCO akan terus melakukan pemeriksaan secara hati-hati untuk mencegah munculnya masalah di masa depan.

Sejarah Kashiwazaki-Kariwa

Kashiwazaki-Kariwa Nomor 6 adalah reaktor pertama yang diaktifkan kembali sejak Pemerintah Jepang menutup seluruh 54 reaktornya pascakecelakaan di PLTN Fukushima Daiichi pada 11 Maret 2011. Saat itu, gelombang tsunami setinggi 15 meter yang dipicu oleh gempa bumi besar menghancurkan mekanisme pendinginan tiga dari tujuh reaktor yang sedang beroperasi, menyebabkan pelelehan masif.

Radionuklida yang terlepas ke lingkungan memaksa otoritas setempat untuk segera mengevakuasi lebih dari 160 ribu orang dan menetapkan zona eksklusif radius 18 mil dari reaktor. Bencana ini juga menyebabkan korban jiwa dan dianggap sebagai bencana nuklir terburuk sejak Chernobyl oleh IAEA.

Setelah kejadian tersebut, kritikan tajam terhadap desain pembangkit yang dinilai tidak sesuai regulasi langsung muncul. Pemerintah Jepang kemudian menutup seluruh pembangkit tenaga nuklir, termasuk Kashiwazaki-Kariwa, yang sepenuhnya dimatikan pada Maret 2012.

Perubahan dalam Kebijakan Energi

Selama 15 tahun setelah kejadian Fukushima, tidak ada pembangkit listrik tenaga nuklir yang dibuka atau diaktifkan kembali di Jepang. Kejadian tersebut juga memicu gerakan antinuklir yang kuat, dengan protes terhadap rencana reboot reaktor di fasilitas lain.

Sebelum bencana, energi nuklir menyumbang sekitar 30 persen dari penggunaan energi di Jepang. Namun, setelah kejadian Fukushima, energi nuklir menjadi simbol ketakutan, dan kelompok penentang vokal menuntut penutupan PLTN secara permanen.

Baru beberapa tahun terakhir ini, organisasi pengawas nuklir Jepang mulai berubah pendirian. Mereka kini setuju dengan regulasi baru yang memungkinkan reaktor-reaktor tetap aktif lebih lama dari batas sebelumnya, yaitu 60 tahun.

Persiapan dan Tantangan

TEPCO, yang pernah mengoperasikan Kashiwazaki-Kariwa, kini mempertimbangkan soft re-launch dari salah satu reaktornya. Informasi menunjukkan bahwa TEPCO telah membuat persiapan selama beberapa tahun untuk rencana ini. Pada Juni 2025, mereka telah memenuhi kembali Reaktor Nomor 6 dengan bahan bakar nuklir dan menyatakan komitmen terhadap keselamatan.

Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, TEPCO juga berencana untuk membuat Reaktor Nomor 7 beroperasi, sehingga cukup energi dapat dibangkitkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Tokyo dan wilayah timur Jepang lainnya. Sementara itu, reaktor yang rusak akibat tsunami akan digantikan dengan reaktor generasi baru.

Potensi dan Dampak

Kapasitas produksi Kashiwazaki-Kariwa masih menjadikannya sebagai PLTN terbesar di dunia. Ketika beroperasi penuh, ketujuh reaktor air mendidihnya mampu memproduksi listrik sebesar 7.695 megawatt—cukup untuk menyediakan energi bagi ratusan ribu rumah. Selain itu, energi nuklir juga memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, yang harganya terus meningkat.

Perubahan juga terjadi dalam Rencana Energi Strategis Pemerintah Jepang. Awalnya, rencana tersebut bertujuan mengurangi penggunaan energi nuklir sebanyak mungkin. Namun, sejak 2021, fokusnya bergeser ke penggunaan nuklir kembali sebagai sumber energi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

Beberapa warga Jepang melihat kembalinya energi nuklir sebagai bentuk pengabaian terhadap keamanan. Namun, sebagian lain mendukungnya demi mengurangi dampak perubahan iklim dan potensi penguatan pertumbuhan ekonomi.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *