"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

AS kumpulkan 40 negara: bahas jalur pelayaran minyak Selat Hormuz

Inisiatif Inggris untuk Membuka Kembali Selat Hormuz

Inggris telah mengambil langkah signifikan dalam memimpin pertemuan besar yang melibatkan sekitar 40 negara. Tujuan utamanya adalah membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang kini terganggu akibat konflik antara Iran dan negara-negara Barat. Pertemuan ini menunjukkan pergeseran dinamika geopolitik, karena tidak melibatkan Amerika Serikat (AS), sekutu tradisional yang biasanya dominan dalam isu keamanan global.

Fokus pada Solusi Diplomasi

Pertemuan tersebut digelar secara virtual pada Kamis (2/4/2026) melalui menteri luar negeri masing-masing negara. Dalam pertemuan ini, fokus utamanya adalah mencari solusi non-militer dan upaya diplomasi untuk memastikan keamanan perlintasan minyak dunia. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan bahwa pemblokadean Selat Hormuz dianggap sebagai langkah ceroboh yang berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Koalisi yang dibentuk oleh Inggris dan Perancis masih berada di tahap awal. Meskipun belum ada kesepakatan spesifik, para peserta sepakat bahwa Iran tidak boleh diperbolehkan membelakukan biaya transit pada kapal di jalur pelayaran tersebut. Semua negara harus dapat menggunakan Selat Hormuz secara bebas.

Tidak Ada Pilihan Militer

Perdana Menteri Inggris Challands secara eksplisit menyatakan bahwa solusi yang diinginkan bukan lewat jalur militer. Upaya membuka selat dengan kekuatan militer tampaknya tidak menjadi pilihan, lantaran risiko yang tinggi. Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan kapal dengan rudal anti-kapah, pesawat nirawak (drone), kapal cepat, dan ranjau.

Challands menyebut bahwa Keir Starmer (Perdana Menteri Inggris) tidak tertarik untuk terlibat dalam perang ini. Sebagian besar negara yang berkumpul juga tidak tertarik terlibat dalam perang. Pertemuan ini akan ditindaklanjuti minggu depan, dengan rencana pertemuan antara perencana militer dari Kementerian Pertahanan Inggris dan beberapa pihak untuk membahas cara memastikan keamanan pelayaran setelah perang berakhir.

Peran Aktivitas Diplomasi

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengakui bahwa pemulihan pelayaran tidak akan mudah. Front persatuan dari kekuatan militer dan aktivitas diplomatik disebut-sebut dibutuhkan, bersama kemitraan dengan industri maritim. Nada yang sama juga datang dari Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang menyatakan bahwa meluncurkan operasi militer untuk memaksa pembukaan selat adalah hal yang tidak layak.

Macron menekankan bahwa opsi militer tidak realistis dan akan memakan waktu yang tidak pasti. Ia menyarankan agar dilakukan komunikasi langsung dengan Iran sebagai cara terbaik untuk memastikan pembukaan selat Hormuz.

Partisipasi Negara-Negara Global

Negara-negara yang berpartisipasi dalam pertemuan ini meliputi Perancis, Jerman, Italia, Kanada, Jepang, dan Uni Emirat Arab. Laporan Al Jazeera juga menunjukkan bahwa koalisi ini turut melibatkan negara-negara Skandinavia, negara-negara Baltik, Bahrain, Panama, dan Nigeria. Sementara itu, AS tidak hadir dalam pertemuan tersebut, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa mengamankan jalur air bukanlah tugas negaranya.

Trump meremehkan sekutu-sekutu Eropa AS karena enggan mendukung perang. Terbaru, ia juga memberikan ancaman untuk menarik AS keluar dari North Atlantic Treaty Organization (NATO). Pertemuan ini dipandang sebagai sinyal kepada pemerintahan Donald Trump bahwa Eropa mulai menata langkah untuk mengamankan negaranya, seiring ancaman Presiden AS yang akan meninggalkan NATO.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *