"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menghadapi Tantangan Baru

Kebijakan BI dan Tekanan terhadap Rupiah



Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026. Keputusan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufiqurahman mengatakan bahwa keputusan BI menahan suku bunga berada dalam posisi defensif dan relatif tepat untuk menjaga stabilitas. Namun, dampaknya terhadap rupiah cenderung terbatas. Di tengah sikap higher for longer The Fed dan penguatan dolar global, selisih suku bunga (interest rate differential) tidak cukup lebar untuk menarik arus modal masuk secara signifikan.

Akibatnya, rupiah masih berada dalam tekanan dan cenderung bergerak volatil dengan bias melemah, meskipun intervensi BI mampu menahan depresiasi yang lebih dalam. Rizal menilai bahwa tekanan terhadap rupiah akan berlanjut karena kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar dan tingginya yield US Treasury mendorong capital outflow dari emerging markets. Sementara dari sisi domestik, pertumbuhan yang mulai kehilangan momentum, konsumsi yang tidak merata, serta risiko fiskal (defisit yang mendekati batas dan kebutuhan pembiayaan tinggi) menambah persepsi risiko terhadap aset rupiah.

Dalam kondisi ini, rupiah cenderung berada dalam tren depreciation bias, kecuali ada katalis kuat seperti lonjakan harga komoditas atau arus masuk modal yang besar.

Pergerakan Modal dan Pasar Keuangan

Ekonom Universitas Indonesia, Teuku Riefky menyampaikan bahwa pecahnya konflik di Timur Tengah, ditambah dengan serangkaian revisi prospek lembaga pemeringkat, telah mengungkap kerapuhan domestik dan memengaruhi pergerakan modal selama beberapa minggu terakhir. Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari, Indonesia telah mengalami arus keluar sebesar US$ 0,77 miliar di pasar obligasi hingga 12 Maret. Namun, pasar ekuitas berkinerja lebih baik, mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 0,03 miliar. Hal ini sebagian besar didorong oleh investor asing yang beralih ke saham sektor energi di tengah penurunan IHSG yang lebih luas setelah pecahnya perang AS-Iran.

Secara total, hingga 12 Maret, Indonesia mencatat total arus keluar modal sebesar US$ 0,63 miliar dalam 30 hari terakhir (dibandingkan dengan 13 Februari), dan arus keluar sebesar US$ 0,75 miliar sejak dimulainya perang. Ketika Indonesia mengalami arus keluar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah 1 tahun mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 83 basis poin dari 4,82% pada 18 Februari menjadi 5,65% pada 13 Maret. Namun, masalahnya tampaknya lebih luas daripada tekanan likuiditas jangka pendek. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun juga meningkat secara signifikan sebesar 36 basis poin dari 6,39% pada 18 Februari menjadi 6,75% pada 13 Maret. Ini menunjukkan pergeseran paralel bearish pada kurva imbal hasil, yang mencerminkan kenaikan premi risiko yang luas di semua tenor.

Peningkatan bersama imbal hasil kedua tenor menunjukkan bahwa pasar memperhitungkan ketidakpastian yang meningkat seputar prospek ekonomi jangka pendek Indonesia, yang didorong oleh arus keluar modal, tekanan mata uang, dan potensi memburuknya kondisi fiskal yang berasal dari guncangan harga minyak.

Perbandingan Depresiasi Mata Uang

Dinamika di pasar obligasi dan saham ini pada gilirannya telah membebani rupiah. Riefky mencatat bahwa selain Indonesia, perang AS-Iran juga telah memberikan tekanan pada banyak mata uang pasar negara berkembang. Meskipun demikian, tidak semua mata uang pasar negara berkembang melemah. Argentina, Malaysia, Brasil, dan Tiongkok mencatat apresiasi terhadap dolar AS secara year to date (ytd). Sementara itu, Indonesia bergabung dengan Filipina, Rusia, Afrika Selatan, Turki, India, dan Thailand dalam mencatat depresiasi.

Meskipun demikian, depresiasi Indonesia tetap relatif moderat dibandingkan dengan beberapa negara sejenisnya, yang mencerminkan upaya aktif Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Pada Februari 2026, aset cadangan devisa resmi menurun sebesar US$ 2,7 miliar menjadi US$ 151,9 miliar, turun dari US$ 154,6 miliar pada bulan sebelumnya, menandai penurunan bulanan terbesar sejak April 2025.

Proyeksi Rupiah dan Risiko Pelemahan

Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan dalam skenario gangguan jangka pendek perang AS – Israel dengan Iran (probabilitas 45%), rupiah melemah sebentar ke Rp 16.900 – Rp 16.920 per dolar AS sebelum stabil di level pra-guncangan dalam waktu seminggu. Dalam skenario perang berkepanjangan (probabilitas 20%), rupiah menghadapi depresiasi berkelanjutan menuju Rp 17.500 per dolar AS karena biaya impor minyak secara struktural memperlebar defisit transaksi berjalan, berpotensi memaksa BI untuk menghentikan atau membalikkan siklus pelonggaran kebijakan moneternya.

Rizal memproyeksikan rupiah pada kuartal II-2026 bergerak dalam rentang Rp 16.800 – Rp 17.300 per dolar AS, dengan kecenderungan masih tertekan di kisaran atas jika tekanan global berlanjut efek perang Iran vs Israel-US. Rizal menilai, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka, terutama jika harga minyak naik (menekan neraca perdagangan energi) dan arus modal asing belum kembali. Namun, stabilisasi masih mungkin terjadi apabila BI memperkuat bauran kebijakan termasuk intervensi valas, pengelolaan likuiditas, dan koordinasi fiskal sehingga volatilitas tetap terkendali meskipun tren penguatan rupiah masih terbatas.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *