Penanganan Darurat Jalan Poros Pamanjengan di Maros
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) telah memastikan penanganan darurat pada ruas Jalan Poros Pamanjengan, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros. Perbaikan sementara ini dilakukan setelah masyarakat melaporkan kerusakan parah yang mengganggu aktivitas harian.
Andi Sudirman Sulaiman, pejabat terkait, menjelaskan bahwa pemerintah desa dan warga setempat sempat melakukan perbaikan jalan menggunakan dana pribadi dan swadaya masyarakat. Ia menilai kondisi jalan saat itu sangat memprihatinkan.
“Kami perbaiki sementara pakai dana pribadi dan swadaya warga. Kasihan masyarakat karena kondisinya sudah parah,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ruas jalan tersebut menjadi titik kemacetan harian, terutama karena merupakan jalur strategis penghubung antara Makassar dengan Moncongloe, Maros. Untuk sementara, penanganan darurat dilakukan agar akses masyarakat tetap bisa dilalui.
“Ini penting karena lalu lintas harian cukup tinggi,” lanjut Andi Sudirman sesuai rilis yang diterima.
Masuk Proyek Multiyears
Perbaikan permanen jalan tersebut sudah direncanakan sebelumnya. Ruas jalan tersebut masuk dalam Paket 6 Multiyears Project (MYP) Pemprov Sulsel yang kini dalam tahap lelang. Pekerjaan mencakup pembangunan talud hingga pengaspalan jalan secara menyeluruh.
Namun, seluruh proses tetap harus mengikuti tahapan administrasi pemerintahan. “Mohon warga bersabar. Tertib administrasi menjadi syarat mutlak, mulai penganggaran 2025, lelang awal tahun, hingga pekerjaan setelah ada pemenang,” jelasnya.
Kondisi Jalan Memprihatinkan
Kondisi infrastruktur di wilayah Moncongloe saat ini cukup memprihatinkan. Sejumlah titik jalan mengalami kerusakan berat, terutama di sekitar area SPBU. Genangan air juga kerap terjadi karena sistem drainase yang belum memadai, termasuk drainase utama.
Pemprov Sulsel menyiapkan penanganan sepanjang kurang lebih 18 kilometer. Ruas yang ditangani meliputi jalur BTP Makassar–Moncongloe hingga Benteng Gajah. Fokus pekerjaan tidak hanya pada peningkatan kualitas jalan, tetapi juga pembangunan sistem drainase.
Langkah ini diharapkan mampu mengatasi genangan air sekaligus memperlancar arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Warga Patungan
Kepala Desa Moncongloe, Muhammad Iqbal, mengatakan perbaikan ini bersifat sementara sambil menunggu penanganan dari pemerintah provinsi. Ia menyebutkan, perbaikan jalan tersebut sudah beberapa kali dilakukan dengan cara yang sama karena kerusakan kerap kembali terjadi.
“Sudah beberapa kali diperbaiki pakai dana pribadi dan swadaya, tapi rusak lagi,” jelasnya. Perbaikan terakhir dilakukan pada Kamis malam kemarin dengan menurunkan satu unit alat berat untuk meratakan jalan.
Adapun anggaran digunakan dalam perbaikan sementara ini, sekitar Rp20 juta. Iqbal menjelaskan, perbaikan difokuskan pada penanganan genangan air yang selama ini menjadi penyebab utama kerusakan jalan.
“Drainase sementara kami buat untuk mengalirkan air. Saluran di depan SPBU juga kami keruk, setelah itu ditimbun dan diratakan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, perbaikan tidak dilakukan dengan pengecoran karena keterbatasan anggaran serta pertimbangan akses jalan. “Tidak sampai dicor, karena tidak ada anggaran. Kalau dicor juga harus tutup jalan,” katanya.
Proses perbaikan sendiri hanya berlangsung satu hari dan kini sudah dapat dilalui kembali oleh kendaraan.
Drainase Tak Maksimal
Seorang warga, Antoni, mengatakan, kondisi kerusakan ruas jalan diperparah oleh SPBU Moncongloe. SPBU tersebut tak memiliki drainase. Sehingga, jika hujan, air pembuangan langsung turun ke jalan. Air itu tergenang. Drainase sudah sejajar dengan ruas jalan.
“Coba perhatikan kalau hujan. Air pembuangan dari SPBU langsung turun ke jalan. Itulah yang perparah kerusakan,” kata dia.











